Senin, 20 Juli 2009
Isra Mi'raj 1430 H
Minggu, 19 Juli 2009
Blitzmegaplex BSD City
Ya, jika anda penggemar film bioskop, kini Blitzmegaplex hadir di BSD City. Tepatnya berada di:
Blitzmegaplex BSD City
Teraskota Entertaintment Center
Lantai 2,
Jl. Pahlawan Seribu, CBD Lot VII B, BSD City, Serpong
Telp. (021) 30025725, Fax. (021) 30025711
Sebagai informasi Teraskota merupakan pusat hiburan terbaru di Pusat Kawasan Bisnis BSD City. Lokasinya berada satu kawasan dengan Ocean Park yang telah lebih dulu hadir. Meski Teraskota belum sepenuhnya beroperasi dan masih berbenah, Blitzmegaplex BSD City telah dibuka untuk umum sejak 10 Juli 2009.
Mengikuti konsep jaringan Blitzmegaplex lainnya, Blitzmegaplex BSD City hadir dengan 9 auditorium. Terdiri dari 8 audi reguler dan satu audi dengan konsep stadium seating. Merupakan lokasi terbaru setelah Paris Pan Java Bandung (10 layar, 2200 tempat duduk, Oktober 2006), Grand Indonesia Jakarta (11 layar, 2997 tempat duduk, Maret 2007), Pacific Place Jakarta (8 layar ekslusif, 1200 tempat duduk, November 2007), dan Mall of Indonesia Jakarta (10 layar, 1768 tempat duduk, Juli 2008). Karena merupakan komplek cineplex terbesar itulah Blitzmegaplex mendapat penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai The Biggest Cinema in The Country pada tahun 2007.
Melengkapi fasilitas cineplex ini adalah: Gamesphere, Blitzshoppe, Coffer corner, Smoking lounge, dan ruang tunggu yang nyaman.
Setiap hari jadwal penayangan film rata-rata dimulai pukul 12.00 hingga pemutaran terakhir yang dimulai pada pukul 22.00. Terdiri dari film produksi Hollywood, Indonesia, Asia, Indie, hingga film-film festival. Meskipun terbuka terhadap film berbahasa Indonesia, sepertinya terdapat penekanan khusus pada penayangan film-film berbahasa Inggris. Terbukti saat saya berkunjung dari tujuh film pada barisan Now Playing ternyata hanya satu judul film berbasis bahasa Indonesia.
Berbeda dengan Blitzmegaplex di lokasi lainnya, harga tiket masuk (HTM) relatif terjangkau:
- Senin sampai Kamis, HTM Rp.15.000,-
- Jum'at, Sabtu, Minggu/hari libur Nasional, HTM Rp.25.000,-
Ketika saya mencoba melewatkan tengah malam akhir pekan, saat itu film berjudul UP tengah tayang di auditorium 4. Deretan kursi berwarna biru menyambut. Sayang, jika dibanding di Cinema XXI BSD City, rasa-rasanya ukuran kursi relatif lebih kecil, dengan sandaran lebih tegak, dan hand rest terbuat dari plastik yang dilengkapi bottle cage jadi sedikit kurang nyaman. Dengan intro yang berbeda, DOLBY juga memperkenalkan diri sebagai penyandang tata suara di audi ini. Sebelumnya, iklan produk sudah wara-wiri sebelum thriller coming soon beraksi.
So, bagi anda yang berniat jalan-jalan dan menghabiskan waktu akhir pekan anda dengan menonton film di sekitar Serpong. Rasanya Blitzmegaplex cukup representatif dan bisa menjadi opsi bagi anda. Have a nice weekend...!
Jumat, 22 Mei 2009
Neolib... Apa Sih?
Ngga salah lagi, Neolib... alias Neo Liberalisme... alias paham liberal gaya baru, semacam kelanjutan dari paham ekonomi liberalisme klasik. Merupakan paham ekonomi yang memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas, serta berupaya merobohkan hambatan perdagangan internasional dan investasi oleh pemerintah dalam ekonomi domestik. Salah satu cirinya adalah privatisasi aktivitas ekonomi khususnya pada usaha-usaha industri yang dimiliki-dikelola oleh pemerintah, pengelolaan sumberdaya alam, pengetatan anggaran, pemotongan subsidi, dan menekan intervensi pemerintah sampai tingkat paling minimum dan menyerahkan pada logika pasar, misalnya dalam penentuan upah minimum dan hak-hak buruh lainnya.
Belakangan paham ini mengemuka terkait dan "mengarah" kepada salah satu pasangan Cawapres yang akan maju pada Pemilu Presiden 2009.
Beberapa jejak kasus Neolib di Indonesia menurut media:
http://www.republika.co.id/berita/51828/Anggaran_Pertahanan_Dikurangi_Untuk_Bayar_Utang
http://www.republika.co.id/berita/51823/Neoliberalisme_Masih_Melekat_di_Boediono
http://www.republika.co.id/berita/51825/Kwik_Bongkar_Kelemahan_Boediono
http://suara-islam.com/index.php/Nasional/Revrisond-BaswirNeolib-In-Actions.html
http://suara-islam.com/index.php/Nasional/Dradjad-TNI-Salah-Satu-Korban-Neoliberal.html
http://suara-islam.com/index.php/Nasional/-Boediono-Operator-Neolib/IMF-di-Indonesia.html
http://www.imf.org/external/np/sec/memdir/members.htm#i
Senin, 18 Mei 2009
Menuju Indonesia I
Bagaimana persiapan anda untuk memilih tiga kontestan Pilpres tersebut?
Barangkali beberapa informasi dari media berikut dapat membantu anda dalam menentukan pilihan. Anda ingin yang konservatif atau liberal... kombinasi jawa-luar jawa atau jawa-jawa... pro ekonomi kerakyatan atau pasar bebas... kemandirian bangsa atau pro barat... religius atau nasionalis... apa adanya atau tebar pesona... anda yang menentukan...!
Untuk mengenal visi & misi capres & cawapres, berikut adalah diantaranya:
http://www.republika.co.id/berita/51174/JK_Ingin_Fair_Trade_bukan_Free_Trade
http://www.republika.co.id/berita/51173/JK_Ajak_Pengusaha_Buat_Program_Pembangunan_SDM
Dikesempatan lain, saya mencoba mencoba mengupdate posting ini dengan cuplikan media dari seluruh kontestan...!
Sabtu, 02 Mei 2009
May Day
Hmmm... rasa-rasanya sebuah istilah yang jarang sekali terdengar, kalau tidak mau dikatakan asing bagi telinga saya...! Seingat saya frase itu adalah sebuah ungkapan panggilan darurat.
Ternyata memang benar. Mayday adalah sebuah kata kode panggilan darurat yang digunakan secara internasional sebagai sebuah pertanda bahaya dalam dunia komunikasi radio. Berasal dari bahasa Francis m'aider yang berarti tolonglah saya. Anda semua pasti tahu bahwa frase ini banyak digunakan di kalangan polisi, pilot, pemadam kebakaran, dan badan transportasi yang menandai dibutuhkannya sebuah pertolongan darurat.
Jika anda melihat di film-film Hollywood, biasanya pilot mengulang kata tersebut tiga kali berturut-turut. Mayday Mayday Mayday...! Tidak sekedar menggambarkan kepanikan akan sebuah situasi kritis, melainkan guna mencegah salah tangkap karena kesamaan frase akibat kondisi latar suara yang berisik.
Dalam gaya penulisan yang hampir serupa... May Day berarti hari pertama di Bulan Mei. Lalu menjadi hari teristimewa bagi pekerja sejagat, karena menandai perjuangan kelas pekerja dunia untuk meraih hak-hak industrialnya, diantaranya adalah 8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam rekreasi yang berlaku mulai 1 Mei 1886 di Amerika Serikat.
Ya, hari Jum'at ini adalah Hari Buruh Internasional. Sebuah ritual tahunan bagi kaum pekerja termasuk di Indonesia. Pemandangan khas berupa aksi turun ke jalan, telah menjadi agenda perayaan, khususnya bagi para pekerja di perkotaan. Laiknya penggunaaan istilah "buruh", tentu saja mereka yang tumpah ruah "diwakili" oleh kaum buruh yang didominasi dari berbagai pabrik. Mulai dari pabrik di kawasan berikat, kawasan industri, atau diluar itu. Mulai dari kawasan metropolitan hingga ke pinggiran kota. Kalau di Jakarta, berarti dari arah barat datang dari Tangerang, Serang bahkan hingga ke Cilegon. Dari arah selatan, mereka datang dari Depok, Bogor sampai Sukabumi. Dari arah timur, konvoi kendaraan berasal dari Bekasi, Cikarang, Karawang, Subang, Purwakarta dan Bandung.
Jika dulu substansi yang diusung "terbatas" pada reduksi jam kerja, maka aksi buruh kontemporer mengalami "perluasan". Namun semuanya bermuara pada dinamika dua kepentingan yaitu buruh dan pengusaha. Bak permainan tarik tambang, siapa yang mau mengulur dan siapa yang mau menarik, hanyalah soal momentum. Tapi di alam nyata, problemnya menjadi teramat rumit, karena keduanya seringkali mewakili ideologi dunia yang saling berebut pengaruh. Tak lain dari isme: sosialisme dan kapitalisme. Sejarah telah mencatat gara-gara kedua isme, dunia terbelah dua menjadi Timur dan Barat, hingga ke satuan kota terkecil seperti Berlin Barat - Berlin Timur, Korea Utara - Korea Selatan, Vietnam Utara - Vietnam Selatan.
Meski telah berbilang abad, problemnya "masih seperti yang dulu". Yang itu-itu aja, hampir tidak pernah beranjak. Benang merahnya tetap sama, perjuangan mengenai "keadilan" dan "kesejahteraan". Hanya chasing yang berubah. Diantara tema kontemporer adalah tenaga kontrak, outsourcing, upah dibawah standar, phk sepihak, diskriminasi suku, ras, gender & agama, jam kerja, dan perlindungan buruh.
Aksi mereka dengan bermandi peluh diterik matahari yang menyengat, sesungguhnya bukan tanpa resiko. Mereka pun menyadari, bayang-bayang sangsi dan peringatan mengintip berada dibelakangnya. Apalagi kalau bukan skorsing dan phk, karena dianggap terlalu "vokal" sehingga manjadi ancaman "makar" bagi perusahaan dimana ia bernaung. Minimal dianggap membawa "aura" negatif bagi rekan kerja yang berusaha "patuh". Sudah banyak "korban" berjatuhan di ranah itu.
Rasa frustasi atas kondisi yang dialami buruh, tak jarang berujung anarkhi, hingga bermuara dijeruji dan kehilangan segala apa yang ada ditangannya. Lagi-lagi para pekerja secara keseluruhan lah yang seringkali "menikmati" buah perjuangan mereka. Buah ke-"vokalan" mereka sebagai kelompok penekan, yang berteriak lantang di hadapan pengusaha dan penguasa.
Termasuk saya... hari ini saya mendapat kado kecil dari mereka. Sebuah kemacetan jalanan akibat aksi buruh menuju arah pulang, telah membuat saya letih dan penat. Lalu, memaksa saya mampir di sebuah department store untuk rehat dan "window shopping". Surprise... name tag yang sehari-hari tergantung di baju sebagai ID karyawan, mendadak beralih fungsi. Pramuniaga dengan ramah menyampaikan: "Dalam rangka memperingati Hari Buruh... cukup dengan menunjukkan ID karyawan, selain diskon yang telah ada, anda akan mendapatkan diskon tambahan 20%...!"
Hmm... awalnya ragu, namun mungkin ini adalah momen terbaik untuk mengganti seragam yang mulai lusuh. Dan saatnya menunjukkan ID kepada kasir... sebagai perayaan May Day!
Selamat Hari Buruh...!

