Selamat Datang di Situs Wajit Subang. Ayo Bersilaturahmi Dekatkan Rezeki!

Senin, 10 November 2008

Quantum of Solace

Sudah nonton film James Bond terbaru?

Quantum of Solace (QoS) adalah film Bond paling gres yang sedang tayang di bioskop saat ini. Di Indonesia, film yang bercerita tentang agen rahasia M16 milik Inggris ini, mulai tayang tanggal 5 November 2008.

Adakah hal menarik dari QoS?

Saya baru sempat nonton film ini Ahad malam, 9 November 2008 di Bioskop 21 WTC Serpong. Tertunda sehari dari rencana semula di hari Sabtu, karena cuaca hujan. Seperti diketahui bulan ini Jabotabek memasuki musim penghujan, sehingga cuaca mendung dengan diselingi hujan berintensitas ringan mulai menjadi pemandangan sehari-hari.

Jam menunjukkan pkl. 19.00 kala tiba di WTC Serpong. Berangkat dari rumah selepas shalat maghrib. Sebenarnya agak tergesa-gesa, khawatir ngga keburu kalau-kalau pengunjung ramai. Namun akhirnya lega juga, hall tiket terlihat sepi. Antrian terisi hanya oleh dua pasangan. Dari empat layar theater tampak dilayani cukup oleh seorang ticket girl, dan saat itu QoS berada di theater 1.

Tapi bukan 007 kalau "biasa-biasa" saja. Buktinya pada waktu di depan seat layout, sebagian besar kursi telah terisi. Row A - G dengan seat angka 4-13 yang menjadi center view sudah habis terjual. Pilihannya tinggal kursi di sayap kiri atau kanan, dan di row H ke atas. Jika di sayap kiri atau kanan, konsekuensinya sound system terdengar tidak balance. Sedangkan bila di row H ke atas, layar tampak sangat dekat, sehingga sudut pandang tidak cukup untuk mengimbangi lebar layar. Dua pilihan yang sama-sama sulit. Akhirnya pilihan jatuh di row H6 dan H7. Jadi secara horizontal agak ke tengah, tapi sudah lebih dekat ke arah layar, persis depan perlintasan dari pintu masuk.

QoS merupakan kelanjutan dari Casino Royale (2006). QoS adalah film Bond ke-22 yang telah berhasil diproduksi dan diedarkan. Di dua film terakhir ini, James Bond diperankan oleh Daniel Craig. Seperti tradisi film James Bond sebelumnya pemeran Bond selalu diperankan oleh aktor berdarah Inggris. Craig pun demikian, ia kelahiran Chester dan besar di Liverpool.

Di film ini, beberapa tradisi Bond tetap dipertahankan, sebut saja keberadaan Bond Girls, Aston Martin, dan Miss Moneypenny. Kali ini Bond Girls diperankan oleh Olga Kurylenko sebagai Camille. Selain itu selalu ada "Bond Girls" lainnya, dalam film ini Gemma Arterton berperan sebagai Agent Fields. Sedangkan Miss M diperankan kembali oleh Judi Dench.

Sejak berakhirnya era Pierce Brosnan, saya termasuk yang kurang bersemangat menonton Bond. Sepertinya Brosnan sudah cukup melekat dalam peran Bond. Sehingga pada saat Casino Royale dengan Craig sebagai pemeran Bond-nya, saya absen menonton di bioskop. Rupanya pemikiran saya hampir mirip dengan review kritisi film saat itu. Craig rasanya terlalu "kokoh", padahal dalam benak saya Bond tidak seperti Rambo yang sangat berotot itu.

Barangkali karena stereotip terhadap Craig, di film ini pun saya melihat banyak yang "hilang" dari Bond yang pernah saya tonton. Sebut saja seperti: Bond kali ini sangat "serius", padahal Bond sering tampil lucu melalui sindiran atau ungkapan-ungkapan lainnya. Bond yang pandai memikat wanita dengan gaya flamboyannya, juga sama sekali tak tampak. Arena pamer peranti teknologi canggih pun, kini tidak ada lagi. Padahal yang terakhir ini, adalah daya tarik yang sangat menonjol dari film-film Bond. Yang masih tersisa adalah adegan kejar-kejaran baik di darat dengan Aston Martin kebanggan Inggris itu, dan kejar-kejaran di air dan udara. Tema tentang penguasaan "sumberdaya" juga adalah hal lain yang masih bisa ditemui di film ini.

Durasi film QoS pun relatif lebih singkat, sekitar 90 menit. Karenanya pada adegan-adegan tertentu seperti saat kejar-kejaran di bagian awal film, pergerakan kamera terlalu cepat. Alhasil detil adegan tidak jelas, siapa menabrak apa, karena mirip penggunaan handycam di tangan amatir. Beberapa adegan juga terlihat terlalu "biasa" misalnya adegan ledakan-ledakan gedung di gurun pasir. Dari alur cerita, bahkan sangat monoton. Bond jadi seperti Rambo, banyak "membunuh". Jalan cerita sangat fokus kepada konflik internal Bond karena terbunuhnya Vesper Lynd yaitu Bond Girls di film Casino Royale sebelumnya. So, bagaimana kisah petualangan Bond selanjutnya akankah Box Office seperti Bond sebelum-sebelumnya. Masihkah terdengar lagi ungkapan I am Bond... James Bond!

Casting:

  • Daniel Craig (James Bond)
  • Olga Kurylenko (Camille)
  • Mathieu Amalric (Dominic Greene)
  • Judi Dench (M)
  • Jeffrey Wright (Felix Leiter)
  • Gemma Arterton (Agent Fields)

Filmography:

  • Quantum of Solace
  • Casino Royale
  • Die Another Day
  • The World is Not Enough
  • Tomorrow Never Dies
  • Golden Eye
  • License to Kill
  • The Living Daylights
  • A View to A Kill
  • Octopussy
  • For Your Eyes Only
  • Moonraker
  • The Spy Who Loved Me
  • The Man With The Golden Gun
  • Live and Let Die
  • Diamonds are Forever
  • On Her Majesty's Secret Service
  • You Only Live Twice
  • Thunderball
  • Goldfinger
  • From Russia With Love
  • Dr. No

Kamis, 06 November 2008

Barry dan Mimpi Kita

Barrack Obama Wins!

Demikianlah 5 November 2008, merupakan hari yang teramat penting dalam sejarah Amerika Serikat (AS). Barrack Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 dan sebagai presiden terpilih pertama dari ras Afro-Amerika. Perjalanan yang cukup panjang bagi seorang ras bukan kulit putih untuk menjadi presiden di negara "demokratis" tersebut.

Faktanya tidak mudah bagi ras kulit lain, sekedar untuk menjadi calon presiden, bahkan sekedar untuk menjadi calon Senat sekalipun. Obama adalah fenomena, kalau tidak mau dikatakan sebagai pengecualian. Beberapa hal menjadi faktor pendorong, mengapa Obama terpilih.

Pertama, Obama terpilih disaat AS dilanda resesi ekonomi yang kronis, yang ditandai oleh penurunan daya beli masyarakat pekerja, pengangguran yang melangit, PHK yang merebak, anjloknya indikasi pasar finansial, kredit macet yang bersifat masal, sebagai dampak turunan dari lemahnya daya saing perekonomian AS di kancah perekonomian dunia. Jika boleh dibandingkan dengan kondisi Indonesia tahun 1998, kurang lebih krisis ini menjadi trigger bahwa masyarakat ingin perubahan. Kalau di Indonesia butuh "revolusi" untuk terjadinya suksesi, maka di AS krisis ekonomi saja sudah cukup.

Kedua, Obama terpilih disaat kinerja politik luar negeri AS menghadapi tantangan di banyak negara. Kegagalan misi militer di Irak, Afghanistan, Suriah, "permusuhan" terhadap Iran, Korea Utara dan Rusia, serta kampanye perang terhadap terorisme adalah sebagian kinerja negatif pemerintahan AS.

Ketiga, Obama terpilih saat publik AS sedang "alergi" dengan kepemimpinan George W. Bush yang berasal dari Partai Republik. Sehingga dukungan kepada partai Demokrat sebagai partai opisisi terbesar yang mengusung "perubahan" mengalir deras. Momentum tersebut, sesungguhnya kurang lebih mirip saat Pak Harto dipaksa lengser, dan dukungan terhadap Golkar sebagai partai incumbent melemah digantikan oleh Partai PDI Perjuangan, sampai akhirnya Megawati Soekarno Puteri mendapat peluang menjadi Presiden RI.

Lalu... euforia itu menyeruak tidak hanya di dalam negeri AS, melainkan dari ruang publik hingga ruang privat di belahan bumi lainnya. Bahkan di Indonesia tak kalah hebohnya, dari media masa sampai media komunitas, dari televisi berita sampai televisi infotainment, dari presiden sampai rakyat jelata, dari kota sampai ke desa. Persis layaknya di film Armagedon saat AS berhasil "menyelamatkan" dunia dari hantaman asteroid. Dimana seluruh bagian jagat ini, bersorak sorai dan ikut suka cita.

Sebagai bangsa yang hidup berdampingan, sepatutnya untuk menyampaikan Congratulation to Mr. US President! Seperti kita pun menyampaikan hal yang sama kepada Bpk. Ahmad Heryawan dan Bpk. Dede Yusuf atas terpilihnya menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Atau kepada Bpk. Aang Hamid Suganda dan Bpk. Aan Suharso atas terpilihnya menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kuningan.

Namun satu hal bahwa Amerika adalah negeri dengan sistem yang sudah terbentuk secara mapan. Artinya bahwa kebijakan politik, khususnya politik luar negeri AS terhadap negeri-negeri berkembang, atau lebih konvergen lagi terhadap negeri-negeri muslim, tidak serta merta akan berubah dengan terpilihnya Obama. Dengan kata lain, presiden boleh berganti tapi kebijakan akan tetap sama, atau partai berkuasa boleh berganti tetapi haluan politik luar negeri kurang lebih akan sama. Demikian halnya dalam cara pandang terhadap issue Irak, Afghanistan, Iran dan negeri muslim lainnya, karena seperti di Indonesia ada UUD 45, di AS pun ada amanat undang- undangnya. "Penyimpangan" terhadap undang-undang berarti pengkhianatan bagi negerinya.

Rasanya perlu dicermati pula seperti pernyataan Presiden Rusia Dimitri Medvedev kemarin yang mengatakan bahwa Amerika adalah biang dari kekacuan dunia. Dari lubuk hati terdalam, awam pun akan berkata demikian, terbukti tatanan politik dan ekonomi dunia sangat rentan dengan kondisi di AS. Saat AS memasuki resesi ekonomi, Indonesia justru terseret-seret dengan indikasi nilai tukar rupiah dan bursa saham rontok. Demikian halnya saat AS dalam kondisi diatas angin pun, dua indikator finansial itu pun tak kunjung membaik. Lagi-lagi semua karena ketergantungan terhadap mono cadangan devisa dalam USD.

Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kemenangan Barrack Obama atas John Mc Cain dengan proporsi 349 delegasi dan 147 delegasi, ada baiknya ditempatkan secara proporsional pula. Dapat dimaklumi bahwa profil Obama dianggap mewakili "kepentingan" dunia berkembang, disebabkan "keterkaitan" dengan tanah kelahiran orang tuanya di Kenya, Afrika. Atau bagi Indonesia, serasa ikut "memiliki" karena pada timeline history, Obama pernah menjadi bagian masyarakat Indonesia dari tahun 1968-1971. Namun pada muaranya, kemandirian secara politik dan ekonomi Indonesia adalah jauh lebih penting.

Euforia tentang Barry kecil yang pernah bersekolah di SDN 01 Menteng Jakarta Pusat, pernah diasuh oleh kakak angkat pribumi, pernah memiliki keluarga di Indonesia, perasaan mengenal secara dekat dengannya dimasa itu, dan kisah sentimental lainnya tidaklah sepenuhnya keliru. Namun jika sebagai bangsa lantas merasa geer bahwa dengan terpilihnya Barry... nasib kita serta merta akan berubah? Rasa-rasanya ada yang salah dalam diri kita. Good Luck Barry!


Biografi Singkat Barrack Obama (dari beberapa sumber):

  • Tanggal lahir: 4 Agustus 1961
  • Tempat lahir: Honolulu, Hawaii, USA
  • Pendidikan: Ilmu Politik dari Columbia University, Pendidikan Hukum dari Harvard Law School
  • Asal Partai Politik: Demokrat
  • Orang tua: Barrack Obama Sr. (lahir di Kenya, Afrika) & Ann Dunham (Besar di Kansas, USA)
  • Isteri: Michelle Robinson
  • Anak: Sasha (6) dan Malia (9)
  • Karir Politik Terakhir: Senat dari Illinois State

Minggu, 02 November 2008

I am Online di Subang! (Bagian ke-2)

Senin, 29 September 2008 adalah hari ke-29 puasa.

Puncak arus mudik tampaknya sudah lewat, karena hari libur resmi Lebaran 1429 H telah dimulai pada hari Sabtu yang lalu. Melihat pengalaman di masa lalu, puncak arus mudik biasanya bertepatan dengan awal liburan seperti hari Sabtu dan Minggu. Itu artinya jalur Pantura sebagai jalur utama mudik menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur, diperkirakan akan lancar.

Dugaan saya ternyata benar. Sejak naik bis dari Terminal Baranangsiang Bogor, penumpang umum sudah mulai jarang. Bis Indah Murni yang saya tumpangi, agak lama ngetem untuk mengisi penumpang. Saat melintas di tol Jagorawi pun suasana lalu lintas sudah lengang, sehingga perjalanan menuju Terminal Pulogadung ditempuh tidak lebih dari satu jam. Suasana yang sulit dijumpai pada hari-hari biasa di Jakarta.

Sayang kondisi ini menjadi antiklimaks bagi bis-bis umum antar kota. Bis-bis tujuan Cirebon dan Kuningan cukup banyak yang ngetem tanpa penumpang. Saya berdua termasuk penumpang pertama di bis Sahabat yang dinaiki di lajur ngetem. Penantian berjam-jam di lajur itu, hanya menambah sepasang suami istri dan seorang bayi sebagai penumpang baru. Akhirnya, awak bus berinisiatif memindahkan kami ke bis Sahabat lain yang relatif terisi oleh penumpang.

Pemandangan ini saya amati sudah mulai berlangsung sekitar tiga atau empat tahun yang lalu. Kini, para pemudik lebih memilih sepeda motor sebagai moda transportasi. Praktis atmosfir berbagai terminal pemberangkatan mudik, yang semula identik dengan kepadatan calon penumpang, rebutan bis dan tempat duduk, kelangkaan armada, hiruk pikuk para calo, sekarang sudah berubah.

Dominasi sepeda motor saat ini lebih mewarnai jalur mudik. Pertumbuhan angka jumlah sepeda motor belakangan ini, mulai terasa paska krisis moneter 1998. Kemungkinan fenomena ini terkait dengan kenaikan ongkos angkutan umum yang relatif tinggi, sebagai dampak kenaikan harga BBM yang telah berkali-kali. Penyebaran outlet atau dealer sepeda motor hingga ke pelosok kampung dari yang kelas authorized dealer sampai yang kelas "tenda", dengan berbagai iming-iming teknik pemasaran, didukung pertumbuhan leasing bak jamur di musim hujan dan kemudahan layanan, telah memudahkan konsumen untuk memindahkan sepeda motor itu dari ruang pamer ke ruang keluarga. Sehingga bisa jadi, mudik dengan bersepeda motor lebih efisien dan lebih praktis, meskipun harus menanggung resiko yang lebih tinggi di perjalanan.

Sebenarnya ada niatan untuk menjajal koneksi Matrix broadband 3,5G, ketika menunggu waktu keberangkatan Sahabat. Namun niat itu urung, mengingat faktor keamanan. Berbeda dengan moda angkutan kereta api seperti Cirebon Express yang masih memungkinkan mengakses gadget laiknya handphone atau mungkin notebook, di bis-bis umum rasanya hal itu belum memungkinkan. Barangkali sekian tahun ke depan... hmmm... siapa tahu?

Akhirnya, kesempatan membuka notebook tiba..., tapi jangan salah itu terlaksana setelah tiba di kampung halaman, selesai menempuh perjalanan sejauh 18 jam!... ha.. ha.. ha..

Pagi keesokan hari di Subang, usai shaur terakhir dan shalat Subuh adalah hari yang membahagiakan. Berkumpul dengan orangtua dan seluruh keluarga adalah momen terbaik. Beban "perkotaan" laksana terlepas, memasuki oase yang menyejukan di penghujung ramadhan 1429 H. Hai... Subang... I am coming!

Apakah Subang masih seperti yang dulu?

Bisa ya bisa tidak. Tentu dengan berbagai perubahannya. Sekurang-kurangnya Subang sekarang masih menyisakan kehangatan, itu yang saya rasakan... seperti saat ini... menulis sedikit journey bagian pertama, dibangku kayu yang menghadap kolam ikan dan persawahan, dibelakang rumah dengan ditemani semilir angin... yes, I am online di Subang!

Subang Purwakarta maksud anda?

Bukan... bukan... ini adalah Subang Kuningan... Subang telah berubah sekarang... Subang has lived... on the internet! Tidak lagi seperti dulu... itulah constant change!

Rabu, 01 Oktober 2008

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
Minal Aidin Walfaidzin
Mohon Maaf Lahir & Batin

Semoga Ibadah Kita Diterima oleh Allah Swt. Amin

Selasa, 30 September 2008

I am on Line di Subang!

Setelah menempuh perjalanan hampir sehari penuh, akhirnya tiba juga di kampung halaman. Journey of Mudik kali ini tentu saja dalam momen Lebaran 1429 H. Trip etape pertama dimulai dari Serpong menuju Bogor pada tanggal 28 September 2008. Pada hari Ahad itu, suasana Serpong dan sepanjang jalan yang dilalui sudah relatif sepi dari lalu lalang kendaraan. Barangkali sebagian besar warga urban sudah tiba atau dalam perjalanan menuju kampung halaman masing-masing. Hanya sesekali kendaraan bermotor yang kebetulan berpapasan di jalan, sehingga Mio dengan beban dua tas didepan, satu back pack yang terpaksa digendong di depan, dan satu tas plastik agak besar terselip ditengah berboncengan dengan my honey, meluncur mulus tanpa hambatan. Setelah dua kali masuk "rest area" yang berada satu kilometer setelah Pasar Prumpung dan gubuk penjual buah-buahan di sekitar Ciseeng, etape pertama berakhir di Bogor pada pukul 10.30. Hari yang indah, namun cuaca memang agak panas. Para ahli cuaca bilang panas yang ekstrim di siang hari belakangan ini, terkait dengan dampak pemanasan global. Panas diatas normal, memang menjadi tantangan yang luar biasa saat menunaikan puasa, terlebih dalam aktivitas di luar ruang atau di perjalanan.

Setelah rebahan sebentar, agenda berikut adalah berkunjung ke stand Indosat di Botani Square. Beberapa hari yang lalu sempat googling mencari info kartu broadband sebagai persiapan online di kampung. Dari hasil googling ada beberapa alternatif sebagai perbandingan: IM2 pasca bayar, IM2 prepaid, dan Matrix. Semuanya dari ISP Indosat, tapi pilihan jatuh ke kartu Matrix dengan beberapa pertimbangan diantaranya sbb.:
  • Saat ini Matrix sedang promo, cukup dengan Rp.100.000,- per bulan dapat unlimited kuota,
  • Kartu langsung aktif pada hari yang sama,
  • Tarif Rp.100.000,- per bulan merupakan pilihan ekonomis, dengan speed maksimum 256 kbps rasanya masih cukup layak untuk browsing ringan,
  • Jangkauan GPRS hinga 3G dengan cakupan yang cukup luas,
  • Kemudahan pembayaran melalui autodebit dibeberapa bank,
  • Kartu perdana diperoleh dengan gratis,
  • Bisa pilih nomor, nomor yang sama dapat dipakai untuk SMS dan berbicara dengan biaya diluar abodemen,
  • Pendaftaran cukup melampirkan copy KTP.

Setelah pilih nomor dan sedikit isi data, saatnya pulang bawa Matrix untuk menjajalnya di rumah. Tidak lebih dari tiga jam kemudian, Matrix ternyata sudah aktif, surprise juga! Aktivasi Matrix dicoba via handset, semuanya berjalan lancar. Tapi ternyata itu belum cukup, saat setting modem HSDPA Huawei E220 barulah ada kendala. Karena merasa waktu kian mepet tanpa ada solusi, sepertinya perlu mengibarkan bendera putih. Selepas shalat maghrib, kembali ke Botani Square sambil bawa back pack untuk mendapat pencerahan setting-an modem ke penjaga stand. Stand girls cukup kerepotan, mulai dari baca buku pintar, sampai perlu kontak mentornya dikeriuhan pengunjung mall. Problem setengah terselesaikan saat mentor Indosat yang kebetulan sedang diluar tugas mampir di stand. Akhirnya setengah pekerjaan lainnya diselesaikan di rumah.

Bagaimana hasilnya? Cukup melelahkan pekerjaan sederhana jadi terkesan rumit, gara-gara tidak menemukan koneksi padahal simcard sudah aktif. Namun, seperti cerita di film endingnya selalu membahagiakan. Koneksi GPRS dengan sinyal penuh akhirnya nongol di pojok kiri dan indikasi upload dan download mulai menampakan tanda-tanda kehidupan. Sayang koneksi impian dengan speed yang cepat, belum menjadi kenyataan. Saatnya menutup notebook, dengan berharap mimpi indah malam ini!

(Bersambung...)

Rabu, 03 September 2008

Selamat Beribadah Puasa

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
1429 H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Semoga diberi kekuatan dan keikhlasan
dalam menjalankannya.

Peta Jalur Mudik 2008

Apakah Lebaran 1429 H anda berencana mudik ke Subang?

Hmm... rasanya tidak afdol ya, kalau Lebaran ngga mudik. Apalagi jika orang tua masih lengkap dan semuanya berada di kampung. Ngga ada salahnya memberi sedikit kebahagian kepada mereka di hari yang fitri. Tidak sekedar "kiriman" yang diharap oleh mereka, melainkan kebahagian berkumpul merayakan hari kemenangan bersama seluruh keluarga. Rasanya kesulitan apapun diperjalanan, seakan tergantikan dengan kehangatan keluarga di kampung halaman, bahkan justru akan menjadi bahan cerita yang menyenangkan...!

Oh ya, info berikut semoga dapat mengantar anda tiba di kampung halaman.

Jakarta - Subang via Pantura
  • Rute: Jakarta - Cikampek - Pamanukan - Jatibarang - Palimanan - Cirebon - Kuningan - Cipasung - Subang
  • Jarak tempuh: +/- 334 km
  • Karakteristik jalan: datar, lurus, lebar, sebagian besar sudah double double track
  • Karakterisik umum: lalulintas ramai, padat, di beberapa titik kerap terjadi kemacetan karena penyempitan, pasar tumpah, kecelakaan lalu lintas, didominasi oleh kendaraan besar seperti bus, cuaca sangat panas di siang hari, merupakan jalur utama menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur, rawan kecelakaan lalu lintas terutama pada jalur lurus, sedikit membosankan karena didominasi jalur lurus, jalur yang kurang "bersahabat" bagi kendaraan kecil, pada dua tahun terakhir jalur didominasi kendaraan roda dua, minim pemandangan "hijau", disarankan menempuh rute ini jika perjalanan anda malam hari
  • Karakteristik khusus: sepanjang rute tersebar fasilitas umum seperti: SPBU, mesjid, rumah makan, pos polisi, tambal ban, posko mudik

Jakarta - Subang via Subang Cikamurang

  • Rute: Jakarta - Cikampek - Sadang - Subang - Cikamurang - Kadipaten - Majalengka - Cikijing - Cipasung - Subang
  • Jarak tempuh: +/- 308 km
  • Karakteristik jalan: datar, tanjakan, turunan, lurus, belokan, single track
  • Karekteristik umum: lalu lintas ramai bahkan cenderung agak sepi, didominasi oleh kendaran pribadi dan travel, cuaca cukup bersahabat di siang hari, merupakan jalur alternatif bagi anda yang menyukai jalur yang variatif, jalur yang relatif "bersahabat" bagi kendaraan kecil, banyak pemandangan "hijau", tidak disarankan untuk perjalanan malam hari karena melewati banyak titik yang relatif gelap penerangan listriknya, dan masih jarang pemukiman penduduk
  • Karakteristik khusus: dibanding rute Pantura fasilitas umum seperti: SPBU, mesjid, rumah makan, pos polisi, atm, tambal ban, posko mudik jumlahnya lebih sedikit

Berikut Peta Mudik 2008 (www.cybermap.co.id):

Peta Mudik Banten - DKI Jakarta - Jawa Barat (Bagian Utara)

Peta Mudik Banten - DKI Jakarta - Jawa Barat (Bagian Selatan)

Peta Mudik Jawa Tengah - Jawa Timur (Bagian Utara)

Peta Mudik Jawa Tengah - Jawa Timur (Bagian Selatan)

Peta Mudik Jawa Timur - Madura (Bagian Utara)

Peta Mudik Jawa Timur - Bali (Bagian Selatan)

Selamat mudik!

Berhati-hati di jalan, selamat berkumpul bersama keluarga!