Selamat Datang di Situs Wajit Subang. Ayo Bersilaturahmi Dekatkan Rezeki!

Jumat, 26 Juni 2020

Radio Streaming Rudatz FM

Rudatz FM hadir di channel radio streaming. Semoga kedepan Rudatz FM dapat siaran berkala dan bersiaran di jalur modulasi frekuensi (FM). Aamiin. Sila kunjungi via link di bawah ini.

Visit my Rudatz FM Website

Free Shoutcast HostingRadio Stream Hosting

Jumat, 13 November 2015

Spectre

Halooo apa kabar Bond Lovers...? Sudah nonton film James Bond terbaru?

Tanpa terasa, sudah tiga tahun berselang sejak film Bond terakhir Skyfall mulai tayang di Indonesia pada tanggal 1 November 2012. Jeda yang cukup normal jika melihat statistik antar produksi dan edar film Bond yang berkisar satu sampai enam tahun. Dari keseluruhan film Bond yang telah diproduksi dan diedarkan ke seluruh dunia sebanyak 24 judul, dapat diketahui bahwa 4 judul berselang satu tahun, 13 judul berselang dua tahun, 3 judul berselang tiga tahun, 2 judul berselang empat tahun, dan 1 judul berselang enam tahun. Artinya rekor jeda antar film terlama masih dipegang oleh Golden Eye (1995), yakni enam tahun setelah film sebelumnya bertajuk License to Kill (1989).

Hmmm... sebuah penantian yang panjang ya...!

Film Bond yang ke-24 produksi Columbia Pictures ini bertajuk Spectre. Saya berkesempatan menyaksikannya pada hari pertama peredaran film ini di Indonesia tanggal 6 November 2015, hari yang persis sama dengan rilis di Amerika. Seperti biasanya, film yang mengisahkan petualangan agen rahasia Inggris (Secret Intelligence Service-SIS) atau lebih dikenal M16 ini, sudah tayang lebih dulu di Inggris pada tanggal 26 Oktober 2015.

Suasana hari perdana penayangan di XXI BSD Plaza relatif normal, tentu saja dengan sedikit peningkatan tensi keramaian antrian di ticket hall. Rupanya berdasarkan desk information, penjualan tiket telah dimulai pada tanggal 31 Oktober 2015. Barangkali hal tersebut berdampak pada bagaimana kondisi antrian hari itu.

Namun layaknya tipikal film box office, hari itu Spectre tayang di tiga layar dari empat layar yang tersedia, masing-masing empat kali pertunjukkan dalam sehari. Di pertunjukkan ke-3 menjelang dan paska maghrib yang merupakan prime time, kondisi tempat duduk telah terisi penuh. Bahkan saya yang datang untuk pembelian tiket langsung, akhirnya mendapat giliran pada pertunjukkan terakhir dan harus rela pada row H center, alhasil sangat dekat dan persis berada tiga baris dari screen. Sebenarnya bukanlah posisi yang ideal untuk menyapu pandangan dengan ukuran layar yang sangat lebar. Namun posisi center selalu menjadi opsi favorit bagi saya, dengan pertimbangan agar tata suara Dolby Digital Surround 7.1 yang terpasang terdengar seimbang di telinga.

Hmmm... so mojok di bioskop dengan mengambil tempat duduk di sayap kiri atau kanan theater, kayaknya ngga deh...! Rasanya rugi... harus bayar mahal tapi ngga dapat maksimal... hi..hi..

Adakah sesuatu yang teristimewa di Spectre?

Penamaan tajuk film Bond tampaknya sudah menjadi rumus baku. Selalu tersurat sekurang-kurangnya dari penggalan dialog dalam alur cerita sepanjang film atau tertulis dalam dokumen atau papan nama misalnya. Kali ini Spectre merujuk kepada sebuah organisasi "hitam" yang bersifat kontra intelejen, yang belakangan diketahui mempunyai hubungan secara personal dengan pimpinan Pusat Keamanan Nasional Inggris Max Denbigh. Frase tersebut terungkap pada dialog Bond dengan Madeleine Swann, seorang puteri dari salah seorang anggota kelompok dimaksud.

Seperti di film sebelumnya Spectre adalah garapan sutradara Sam Mendes, dan merupakan film Bond ke-4 yang diperankan oleh Daniel Craig, setelah film sebelumnya yaitu Skyfall (2012), Quantum of Solace (2008) dan Casino Royale (2006). Sesuai tradisi, James Bond selalu diperankan oleh aktor berdarah Inggris. Demikian halnya dengan Craig, ia lahir di Chester pada tanggal 2 Maret 1968 dan besar di Liverpool dengan nama lengkap Daniel Wroughton Craig.

Hal yang berbeda di Spectre adalah karakter M yang melekat pada Judi Dench di film-film sebelumnya, telah berakhir dengan meninggalnya M pada insiden di Skyfall. Kini karakter M digantikan oleh Ralph Fiennes, sedangkan figur Q dan Miss Moneypenny masih seperti di Skyfall diperankan oleh tokoh yang lebih muda dan dinamis, bahkan Q turut langsung dalam sebuah misi beresiko memanggil kembali Bond di Austria, serta meretas untuk menggagalkan sistem intelejen baru yang sedang dalam proses start up di London.

Beberapa hal yang tetap dapat disaksikan adalah keberadaan Aston Martin (produsen kendaraan di Inggris) sebagai kendaraan dan alutista Bond, dan jam tangan Omega yang berfungsi sebagai peledak ber-timer yang disupport oleh Q. Penampakan Aston Martin kali ini tampak lebih berkelas super sport car, ketimbang gaya klasik. Beradu cepat dalam sebuah adegan adu kebut-kebutan di Roma sampai ke jalanan sempit dengan super sport car Jaguar. Di dalam cerita, Aston Martin tersebut sebenarnya bukan untuk Bond, melainkan untuk 009 yang "dicuri" dari Q. Sedangkan Bond "hanya" mendapat peranti jam tangan, yang diceritakan oleh Q seperti jam tangan biasa yang tidak lebih untuk menunjukkan waktu. Barangkali di film ini ingin menggambarkan bagaimana kondisi perekenomian dunia yang relatif tidak cukup membaik.

Dari alur cerita pun, tampaknya sudah "pakem"-nya Bond. Diawali dari sebuah misi di Meksiko yang terungkap sebagai "sesuatu" yang diwariskan oleh M pada saat meninggal di pangkuan Bond di Skyfall, berujung adegan menegangkan di sebuah helikopter diatas kerumunan ribuan peserta perayaan kematian di Meksiko, lalu cooling down dengan title film, setelah adegan mematikan dari seorang tokoh "hitam" yang dicari dan meninggalkan jejak sebuah ring berlogo gurita.

Lagi-lagi bahwa tema Bond, tampaknya selalu aktual. Di tengah konstelasi politik dunia yang terus berubah, keberadaan intelejen negara dan kebutuhan kerjasama intelejen antar negara di dunia masih menjadi bahan kajian dan dianggap tidak relevan. Tak terkecuali M16 sendiri, bahkan berdasarkan keputusan pemerintahan terakhir sudah sangat maju, M16 telah direview, karena sudah dianggap kuno, dan seluruh misi harus dihentikan. Situasi ini justru menjadi "peluang" bagi kelompok "opportunis" untuk menciptakan distabilitas di berbagai kawasan untuk kepentingan bisnis dengan dagangan berupa "informasi" yang menjadi nilai jualnya.

Dari alur cerita ini, membawa Bond berpetualang dari gegap gempita perayaan di Meksiko, berlanjut ke adu kebut super car di jalanan sempit dan tangga kota Roma, berkendara di pemandangan salju dan danau yang indah di Austria, adegan mengejar Land Rover dengan pesawat di pegunungan salju yang tidak biasa, baku hantam di kereta ditengah lansekap gurun pasir Maroko, dan lansekap kota Londan dengan landmark London Eye, menjadi daya tarik yang kuat di film berdurasi 147 menit ini. 

Dan... tentu saja eksistensi Bond Girls selalu menjadi daya tarik utama, yang kehadirannya terkadang tak terduga dan spontan. Bond Girls sebagai informan selalu terancam, ada yang tak terselamatkan, namun dibagian akhir Bond Girls lainnya terkadang menjadi mitra dan layak diselamatkan. Rasanya... di Spectre, Craig kian matang, pesona Bond yang maskulin dan pemikat wanita cukup tergambar di film ini.

Akankah Craig menjadi pemeran Bond selanjutnya di tengah spekulasi penggantiannya? Hmmm... perlu dipertimbangkan ya... kayaknya...!


Casting:
  •         Daniel Craig (James Bond)
  •         Ralph Fiennes (M)
  •         Christoph Waltz (Oberhauser)
  •         Naomie Harris (Eve – Miss Moneypenny/Sekretaris M)
  •         Lea Seydoux (Madeleine Swann – Bond Girl)
  •         Ben Whishaw (Q)
  •         Monica Bellucci (Lucia Sciarra)
  •         Andrew Scott (Max Denbigh)
Filmography:
  •         Skyfall (2012)
  •         Quantum of Solace (2008)
  •         Casino Royale (2006)
  •         Die Another Day (2002)
  •         The World is Not Enough (1999)
  •         Tomorrow Never Dies (1997)
  •         Golden Eye (1995)
  •         License to Kill (1989)
  •         The Living Daylights (1987)
  •         A View to A Kill (1985)
  •         Octopussy (1983)
  •         For Your Eyes Only (1981)
  •         Moonraker (1979)
  •         The Spy Who Loved Me (1977)
  •         The Man With The Golden Gun (1974)
  •         Live and Let Die (1973)
  •         Diamonds are Forever (1971)
  •         On Her Majesty's Secret Service (1969)
  •         You Only Live Twice (1967)
  •         Thunderball (1965)
  •         Goldfinger (1964)
  •         From Russia With Love (1963)
  •         Dr. No (1962)

Sabtu, 04 Januari 2014

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Jalan-jalan ke Kualalumpur? (Bagian ke-1)

Ada baiknya mulai membiasakan diri dengan budaya setempat, salah satu yang terpenting adalah bahasa pengantar. Keep calm... dan ngga usah panik he...he... karena masih serumpun rasanya hanya beda-beda dikit kok...! 
Nah... sebagai pemanasan mulailah dengan beberapa kosa kata terkait manual keselamatan di sekitar tempat duduk anda...! (foto: Adirahman)

Atau berupa rangkaian kalimat yang sedikit lebih kompleks...! 
(foto: Adirahman)

Atau ritual wajib ini... selain perlu dimengerti anda pun 'kudu' memakainya, atau bisa saja anda pura-pura tidak tahu... sambil berharap mendapat bantuan awak kabin untuk mengeratkannya... he...he... modus...!
(foto: Adirahman)

Setelah berlatih bahasa dan mengangkasa sekitar tiga jam (efektif durasi dua jam, terdapat perbedaan zona waktu lebih lambat satu jam dengan Jakarta)... maka bersiaplah untuk pendaratan... 
hmmm... jangan terlalu berharap anda disambut langsung oleh twin tower saat mendarat... melainkan bersabarlah... hamparan kebun sawit akan tergelar di bawah anda lebih dahulu... anggap aja green carpet... he...he... (foto: Adirahman)

Untuk menuju pusat kota, anda bisa memilih official bus (sejenis Damri kalau di Bandara Soeta) yaitu Skybus (badan bus didominasi warna merah) dan Aerobus (badan bus didominasi warna kuning) dengan rute LCCT ke KL Sentral. 
Selama satu jam perjalanan, anda masih punya waktu untuk mempertimbangkan opsi membeli kartu operator seluler lokal, jika kartu ponsel anda tidak ramah pulsa alias kena roaming, atau mungkin belum registrasi ke operator sehingga tidak aktif ke roaming partner lokal. (foto: Adirahman)

Sebagai gambaran besaran tambang sekali jalan berkisar RM 9.00 - RM 10.00. (foto: Adirahman)

Eittt... baiknya jangan terburu-buru membaca doa sebelum tidur... cobalah sejenak menyapu pandangan ke kiri dan kanan anda... barangkali ada hal-hal menarik... semisal menjumpai sirkuit kebanggaan di Sepang atau mungkin situs pusat pemerintahan di Putra Jaya... siapa tahu dilain waktu bisa mampir disana... (foto: Adirahman)

Bisa juga membuat video perjalanan semi dokumenter, atau berkenalan dengan penumpang lokal... dan berharap dia bersedia menjadi guide secara sukarela... he...he... 
Saya beruntung bertemu 'Amy Search' di KLIA Transit yang lagi bikin film... dan mau berbagi sisi menarik dari KL... yang mengagetkan doi sudah sering ke Bali, Bunaken, Bandung, Jogja dan destinasi wisata lain di tanah air... dengan jujur dia berkata...: "Indonesia jauh lebih menarik dari Malaysia..." he...he...! (foto: Adirahman)

bersambung... (nantikan ya...!)

Minggu, 04 Agustus 2013

Ritual Mengusir Jenuh dalam Perjalanan Budget Airline

 Sebaiknya senantiasa cermati di gate mana seharusnya anda menunggu... bisa anda catat di buku, hp atau jika perlu difoto seperti diatas biar ngga lupa...! soalnya anda bisa saja dipindah tiba-tiba ke gate lain, bahkan lebih dari satu atau dua kali... dan yang terpenting jangan sampai anda salah naik di maskapai layanan full service... he..he.. lebih awal datang lebih baik, termasuk saat gate belum dibuka... dari pada ketinggalan pesawat ya...! (foto: Adirahman)

 Sambil menunggu gate dibuka, ngga ada salahnya ngubek-ngubek isi bandara atau berselancar tentang fasilitas bandara atau sejarahnya sekalian... dan tentu saja update status facebook dan tweeter... mumpung gratis... he..he.. (foto: Adirahman)

Kalau ngga punya entry pass ke lounge berbayar dari kartu kredit (karena kartu kredit mentok di gold...) bukan berarti anda terluput dari peluang berselonjor ria di area favorit... ada yang gratisan kok... (foto: Adirahman)

Setelah haqqul yaqin bahwa anda naik ke pesawat yang benar, bukan odong-odong atau pesawat dengan rute yang lain... maka ritual wajib adalah "pasangkan tali keledar keselamatan semasa duduk" (ditemui di pesawat kode AK rute negeri jiran...) tegakkan sandaran kursi, lipat meja di depan anda, buka penutup jendela di samping anda... dan matikan hp anda... tentu demi kebaikan bersama... (foto: Adirahman)

Meskipun anda telah memiliki jam terbang yang banyak, ada baiknya tetap antusias dan apresiatif terhadap awak kabin ketika memperagakan tata cara keselamatan dalam penerbangan darurat... lantas serahkan semuanya kepada Allah Swt. dengan berdoa untuk keselamatan...
(foto nyuri-nyuri takut kena tegur: Adirahman)

Sekalipun deg-degan dengan prosesi take off... ngga perlu ragu untuk mengabadikan landscape bandara dari posisi bird view... jarang-jarang kan...? (foto: Adirahman)

Lumayan kan... bisa ambil beberapa foto untuk waktu yang singkat... (foto: Adirahman)

Jika di darat sulit bertemu selebriti favorit... hmmm... di angkasa jauh lebih mudah... cukup membuka menu cafe... lantas pas ia hadir dihadapan anda... he..he.. (foto: Adirahman)

Tidak cukup dengan memandangnya... ada baiknya sebagai bukti anda segera memesan dan mencicipi sajiannya... harganya terang-benderang kok...! (foto: Adirahman)

Jika anda belum berencana memejamkan mata... mungkin dengan membolak-balik halaman buletin penerbangan bisa menambah informasi tentang destinasi anda... saya beruntung bertemu dengan suami teman sejawat di satu halaman di atas... ngga sia-sia kan...? (foto: Adirahman)

Rasanya ngga salah juga untuk ber- Hiii... ria dengan penumpang di sebelah anda... dan "Cheese...!"... boleh berfoto kan...? (foto: Adirahman)

 Atau mengabadikan keindahan alam lainnya di balik jendela di samping anda... (foto: Adirahman)

 Jangan buru-buru terlelap... jika belum pernah ke jembatan Surabaya - Madura via jalur darat, cukuplah anda memandang keindahannya lewat udara... indah bukan? (foto: Adirahman)

Atau anugerah alam lainnya... seperti puncak pegunungan, yang entah kapan bisa mendaki sampai ke puncaknya... kali ini anda bisa berada diatasnya... (foto: Adirahman)

 Sambil bersyukur dan tak hentinya berdoa... bersiaplah untuk prosesi mendarat di destinasi anda...
Senang...? sudah pasti... deg-degan...? tetep... tapi bukan alasan untuk tidak mengabadikannya dengan beberapa landscape... (foto: Adirahman)

Lagi-lagi... landscape bandara paska mendarat... ternyata tidak kalah menarik...hii..hii... bandaranya cukup sibuk ya... antrian untuk take off sebegitu banyaknya...(foto: Adirahman)

 
Bandara impian... ngga pa-pa lah mencontoh yang baik-baik... tentang kebersihan, keteraturan, fasilitas, dan pelayanannya...(foto: Adirahman)

Impresi pertama tentang sebuah bandara... ngga lain soal kebersihan... tempat sampah yang ini perlu juga untuk referensi... (foto: Adirahman)

Sementara itu dulu ya... sampai bertemu di perjalanan yang lain... bye... bye...!

Kamis, 01 Agustus 2013

Kian Sesaknya Kereta Kami

Sentosa Express, transportasi berbasis monorel yang menghubungkan daratan Singapura dengan Pulau Sentosa (foto: Adirahman)

Hari ini adalah genap sebulan sejak PT. KAI Commuter Jabodetabek secara resmi memberlakukan penggunaan tiket elektronik tarif progresif Commuter Line (CL), yang ditandai dengan peluncuran kartu Commet multirip. Apakah anda punya impresi, apresiasi, atau kesan khusus terhadap transportasi masal ini?

Hmm... terus terang kalau saya sih impresi selama sebulan ini ya... pegal-pegal... he..he.. Lho kok bisa...? Soalnya hampir seluruh aktivitas didominasi oleh pose berdiri... hi.. hi.. entah saat antrian membeli tiket di loket, menunggu kereta delay di peron, menunggu kereta jogrog yang ngga kunjung pintunya dibuka, dalam perjalanan berbilang menit di kabin kereta, menunggu kereta transit, atau saat mau tap out dengan antrian mengular di stasiun tujuan. Itu belum apa-apa lho...? Maka sebagai pengguna aktif Commuter Line rute Serpong - Sudirman atau Kemayoran - Serpong di hari kerja, mohon ijin berbagi rasa atau memberi bintang (jika ada... he..he...) untuk pelayanan CL selama ini.

Pertama, Kian Sesaknya Kereta Kami. Memang inilah yang terasa selama sebulan ini, suasana di kabin kereta kian sesak dan padat. Hampir tiada ruang untuk menginjakan kaki atau sekedar menaruh tangan agar badan tetap seimbang diantara olengnya kereta. Semua ring atau mistar untuk berpegang terpakai penuh, terlebih dikala jam berangkat dan pulang kerja. Seringkali mereka yang tidak bisa meraih keduanya, terpaksa memasang kuda-kuda ala pendekar Banten, atau terkadang pasrah terombang-ambing disela-sela himpitan punggung yang penuh dengan peluh.

Rasa ini semakin bertambah tatkala mesin pendingin berubah fungsi menjadi pemanas. Mesin pendingin yang seringnya tidak dingin ketika normal, menyulap kabin menjadi sauna. Karbon dioksida menumpuk akibat penumpang berjejal melebih kapasitas kabin. Beruntung, jika dalam perjalanan pagi kita masih mencium harum parfum atau wanginya sabun mandi, maka dalam perjalanan pulang di sore hari wewangian tadi sudah berganti dengan aneka bau yang lain tentunya. So, agar dapat menghirup oksigen yang cukup, beberapa roker secara kreatif membuka sebagian jendela.

Tragisnya, kepadatan yang abnormal itu terkadang ditingkahi oleh ulah hyperaktif sebagian penumpang, semisal mengobrol sepanjang perjalanan dengan volume suara yang menganggu, menjawab percakapan telepon, suara nada panggil telepon genggam yang berisik, terlalu banyak gerak untuk keperluan yang tidak perlu seperti memainkan telepon genggam atau membolak-balik majalah dan koran. Dalam beberapa hal potensi pelecehan seksual juga sangat terbuka, mengingat kontak pria dan wanita dalam satu kabin yang cukup intens, sulit dihindari. Dilain pihak, kepadatan juga menyebabkan pintu otomatis tidak bisa ditutup sempurna, karena terganjal atau memang sengaja "diganjal" penumpang.

Kemungkinan kian sesaknya kereta disebabkan oleh beberapa hal seperti: perjalanan kereta yang tidak sesuai jadwal akibat keterlambatan, jumlah gerbong dalam satu rangkaian tidak mencukupi (6 gerbong, sebagian diantaranya 8 gerbong), perpindahan penumpang dari rangkaian kereta lainnya, pertumbuhan jumlah populasi pengguna kereta akibat secara relatif tarif progresif menjadi "murah", dan terindikasi penumpang ilegal (kehadiran penumpang tanpa tiket atau tiket tidak sesuai moda). Untuk kasus yang terakhir ini, tampak dari cukup banyaknya penumpang keluar di stasiun tujuan sebagai contoh di Serpong yang tidak melewati gerbang tap out, melainkan melintasi rel. Berbeda halnya saat berlaku tiket manual, di kabin sejauh ini hampir tidak ada pemeriksaan pemilikan tiket.

Kedua, Butuh Energi dan Nyali Lebih. Anda harus benar-benar sehat lahir batin, jika anda telah memutuskan memilih CL untuk mengantar anda ke tempat bekerja. Bayangkan, energi anda sangat dibutuhkan saat mulai aksi berdiri diantrian loket, lalu antrian di gerbang tap in, berlanjut aksi berdiri di peron ketika menunggu kereta yang berbilang menit atau mungkin juga delay. Soalnya populasi calon penumpang di peron kecenderungannya membludak dan hanya tersedia beberapa baris kursi tunggu. Tragisnya di Stasiun Serpong nihil keberadaan kursi peron, maka siap-siap saja lutut dan kaki anda untuk diuji ketahanan... he..he.. Setelah maklumat bahwa kereta akan lewat di peron tertentu, anda mesti bersiap berada di antrian terdepan sambil berharap cemas mendapat tempat duduk di kabin. Ternyata itu saja belum cukup, membuang sedikit rasa malu dan nyali anda dituntut lebih untuk berjuang di depan pintu kereta yang belum terbuka, lalu berhimpit-himpitan dan tergopoh-gopoh berebut naik dan meraih tempat duduk yang belum tentu tersedia. Padahal penumpang yang hendak turun belum mendapat prioritas, maka aksi dorong arus masuk dan keluar kereta menjadi kejadian yang tidak terelakan dalam aksi perebutan "kursi".

Demikian halnya ketika kereta anda sampai di stasiun tujuan, anda perlu usaha keras "menerjang" calon penumpang yang akan naik ke kabin, sementara itu anda akan turun dari kabin. Lalu perjuangan berlanjut memperebutkan mulut tangga atau eskalator (jika ada) untuk pindah peron ketika transit atau menggapai emplasemen di lantai berikutnya. Disini aksi berdesakan berulang lagi dengan penumpang yang searah, diperparah berebut dengan calon penumpang yang berniat masuk ke peron. Keluar dari "halang rintang" ini bukan berarti selesai... jika anda penumpang transit, maka anda harus mengulang dari urutan pertama "ritual" menaiki CL ini, namun jika anda mengakhiri perjalanan di stasiun ini, bersiaplah anda harus rela mengantri lagi untuk tap out di gerbang keluar. Antrian di fase terakhir ini lumayan sangat panjang, terkadang tidak ada ruang emplasemen yang tersisa untuk antrian, karena setiap tap out membutuhkan beberapa detik, belum lagi memasukan kartu dan approval-nya untuk Commet singletrip, sehingga membutuhkan ekstra kesabaran agar anda benar-benar keluar dari area stasiun.

Selanjutnya bersiaplah merapikan gaun atau rambut anda yang mungkin sudah kusut masai atau barangkali sekedar men-setup ulang wewangian anda yang sudah jauh berubah... he..he..

Ketiga, Fasilitas Kereta yang Buruk. Sejauh ini fasilitas kereta yang "dijual" oleh PT. KAI Commuter Jabodetabek adalah keberadaan mesin pendingin (AC). Fasilitas inilah yang konon menjadi diferensiasi produk dan menjadi "value" dibandingkan dengan KRL ekonomi (almarhum red.). Sayangnya fasilitas ini di beberapa rangkaian kereta generasi awal, sudah tidak berfungsi optimal. Di pagi hari pada saat udara masih sejuk keberadaannya cukup dirasakan, namun sangat berbeda ketika perjalanan pulang di sore hari berfungsi layaknya mesin pemanas, hanya meninggalkan bunyi bising dan menebar hawa panas dari atap kabin. So, apa bedanya dengan KRL ekonomi yang sudah dialmarhumkan itu?

Terkait dengan rangkaian kereta generasi awal yang konon didatangkan dari Jepang itu, isteri saya bercerita kalau temannya yang kebetulan mengajar di perguruan tinggi negeri di bilangan Depok bertemu dengan kolega seniornya dari Jepang yang sedang berkunjung ke kampusnya. Suatu ketika koleganya itu melihat rangkaian kereta yang kebetulan lewat di depan kampus tersebut lalu spontan seakan berteriak: "Lho...! Itu kan kereta yang aku naiki waktu aku kecil...!" Teman isteri saya hanya berucap: "Masa sih...?" Ngga salah lagi, dibadan kereta rupanya masih tertulis hurup kanji yang kira-kira menyatakan rute yang dijalani kereta itu ketika masih beroperasi di Jepang. Sudah terlalu rentakah untuk beroperasi secara layak?

Dari pengamatan saya, sesungguhnya PT. KAI dari sekitar tahun 2000-an sudah berupaya mengoperasikan rangkaian KRL hasil produksi lokal PT. INKA. Demikian halnya di kereta CL, beberapa rangkaian hasil produksi PT. INKA sudah memperkuat jajaran itu. Kali ini penampakan produk lokal tersebut sudah kian "mirip" dan relatif cukup modern dari sisi desain. Namun, lagi-lagi kwalitas produk tersebut membutuhkan ujian dan proses untuk sejajar dengan produk luar sebelumnya. Terbukti ketika saya menaiki kereta tersebut sewaktu hujan lebat di pertengahan Juli kemarin, di kabin saya dihebohkan banjir air hujan yang menyembur dengan sangat deras dari ventilasi mesin pendingin diatas atap. Hampir sepanjang perjalanan, kenyamanan penumpang terganggu ulah guyuran air hujan itu, dari informasi beberapa penumpang kejadian tersebut terjadi pula di kabin lainnya.

Sementara pada kasus lainnya pintu otomatis terkadang membuka dan menutup sendiri secara berulang, dimana kereta sedang berjalan. Bayangkan jika ada penumpang yang sedang menyandar di pintu, tentu akan sangat membahayakan jiwa. Beberapa bagian lainnya seperti LCD yang terletak diatas pintu kabin juga hanya menjadi penghias tanpa terlihat berfungsi, bagian-bagian karet penyekat pintu otomatis dan penutup list atap kabin juga sudah tampak rusak dan terkelupas.

Suasana kabin MRT yang dioperasikan oleh SBS Transit di Singapura (foto: Adirahman)

Keempat, Fasilitas Stasiun yang Minimal. Kendati PT. KAI mulai berbenah diantaranya melalui sterilisasi stasiun dari okupasi pedagang dan pihak yang tidak berkepentingan, rasanya akselerasi dalam penambahan fasilitas stasiun perlu percepatan. Diantara yang mendesak adalah jumlah tempat duduk untuk menunggu yang layak dan memadai, peron yang nyaman dari gangguan hujan dan panas, konsistensi terhadap pelarangan keberadaan pedagang di kabin dan di peron, toilet umum yang manusiawi dan gratis tanpa syarat, serta parkir yang layak dengan luasan memadai.

Semoga saja di satu bulan usia e-ticketing ini, PT. KAI Commuter Jabodetabek tidak semata fokus mengejar perluasan pasar dan pertumbuhan populasi pengguna, melainkan lebih berorientasi terhadap peningkatan kenyamanan dan keamanan ber-Commuter Line. Rasanya belum terlambat mensejajarkan dengan kwalitas layanan transportasi massal dengan referal MRT negeri tetangga.

Pertanyaan yang harus segera terjawab adalah bagaimana memanusiakan pengguna di transportasi publik...?

Rabu, 17 Juli 2013

Tips Mudik Asyik Lebaran 1434 H

Ada rencana mudik ke kampung halaman pada Lebaran 1434 H ini?

Hmmm... jika jawabannya ya..., maka ada baiknya dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Kira-kira apa sih yang perlu disiapkan?

Lets time to prepare...!

Pertama, tentukan hari keberangkatan. Sesuai Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi) hari libur Lebaran 1434 H adalah jatuh pada tanggal 8 dan 9 Agustus 2013, sedangkan tanggal 5, 6, dan 7 Agustus 2013 dinyatakan sebagai cuti bersama. Jika mengacu pada keputusan tersebut, maka anda bisa mengatur waktu mudik lebaran dari tanggal 3 sampai dengan tanggal 11 Agustus di minggu berikutnya, dengan total 9 hari. Namun perlu diperhitungkan bahwa 1 Syawal 1434 H berpeluang jatuh pada tanggal 8 atau 9 Agustus 2013. Artinya jika hari berpuasa berpeluang penuh selama 30 hari, maka 1 Syawal tepat pada tanggal 9 Agustus 2013. Konsekuensinya anda perlu mempertimbangkan untuk menambah jumlah cuti, jika anda berniat berlama-lama di kampung halaman paska Lebaran.

Penentuan hari keberangkatan yang tepat, akan sangat mempengaruhi kenyamanan diperjalanan. Biasanya operasi tanggap mudik Lebaran yang ditetapkan oleh pemerintah adalah 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah Lebaran, atau populer dikenal dengan H-7 dan H+7. Pada tenggat tersebut seluruh instansi terkait seperti Kepolisian Negara RI, Kementrian Perhubungan, Kementrian Kesehatan, Kementrian Pekerjaan Umum, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, PMI, Jasa Marga, penyelenggara tol, perbankan, ASDP, PT. KAI, PT. Angkasa Pura, PT. Damri, operator bis, maskapai penerbangan, operator telepon, rumah sakit, ATPM, bengkel, dan industri pendukung lainnya sudah bersiap di sepanjang jalur mudik. Mengingat libur Lebaran cukup panjang sebelum hari H, memungkinkan hari keberangkatan dapat diatur lebih longgar untuk menghindari kepadatan pada puncak mudik. Sementara titik kritis justru pada arus balik, karena akhir libur resmi hanya berselang beberapa hari paska hari H Lebaran.

Kedua, tentukan rute perjalanan. Berdasarkan informasi terkini, jalur Pantura yang menjadi jalur favorit mudik ke arah timur bagian Pulau Jawa masih dalam perbaikan. Karakteristik jalan di jalur ini cenderung datar, lurus, lebar, dan sebagian besar sudah double-double track hingga sebagian Jawa Tengah. Alternatif menuju ke timur adalah rute via Sadang - Subang - Cikamurang - Kadipaten - Palimanan - Cirebon atau dari Kadipaten via Majalengka - Cikijing - Kuningan. Karakteristik jalan di jalur ini cenderung kombinasi tanjakan dan turunan, lurus dan belokan, dan single track.

Selain berkenaan dengan jarak tempuh, penentuan rute yang sesuai juga untuk mempertimbangkan potensi titik kemacetan, keamanan, dan dukungan ketersediaan fasilitas seperti SPBU, bengkel, tambal ban, mesjid, rumah makan, posko mudik, pos polisi, rumah sakit, atm dan lainnya. Melalui panduan peta mudik lebaran terkini, anda bisa menentukan dari sekarang mana red line yang sekiranya termasuk "kurang bersahabat" dan green line yang sekiranya "bersahabat" untuk dilalui. Sebagai tambahan ada baiknya mempertimbangkan faktor jalur wisata, jika anda berniat memberi nilai lebih dari rute mudik anda.

Ketiga, tentukan moda transportasi. Bagi anda yang berada di Pulau Jawa dan memilih menggunakan transportasi publik, sejauh ini penggunaan kereta api cukup direkomendasikan. Beberapa alasan diantaranya adalah faktor kenyamanan dan kecepatan. Seperti diketahui PT. KAI memasuki tahun 2013 ini telah memberlakukan tiket sesuai tempat duduk, menghapuskan tiket berdiri, memberlakukan gerbong berpendingin udara termasuk kelas ekonomi, pemesanan tiket online dan sesuai KTP, serta reservasi tiket 3 bulan sebelum hari keberangkatan dengan distribution channel yang lebih meluas.

Namun jika anda memilih kendaraan pribadi, so masih cukup waktu untuk memeriksa kelayakan kendaraan anda. Bukan karena menyangkut usia kendaraan, melainkan terkait perawatan rutin yang menentukan kehandalan kendaraan. Dari jenis kendaraan roda dua, check list yang perlu mendapat perhatian adalah seputar oli mesin, sistem pengereman (cakram, kampas dan minyak rem), head lamp & rear lamp, flasher (lampu sign), v-belt cvt (untuk motor matik), rantai, air accu, ketebalan grip dan tekanan ban. Dari jenis kendaraan roda empat, daftar prioritas anda tentu lebih banyak diantaranya kelayakan oli mesin, timing belt, sistem pengereman (cakram, kampas dan minyak rem), head lamp & rear lamp, flasher, oli transmisi, oli gardan, ketebalan grip dan tekanan ban, air radiator dan tabung cadangannya, air accu, wiper dan air wiper, sistem pendingin udara, tools kit dan ban cadangan.

Beberapa tahun belakangan ini, moda transportasi seperti shuttle bus dan travel cukup berkembang dengan kenyamanan dan kemudahan booking-nya, khususnya bagi anda yang meragukan kenyamanan transportasi publik lainnya. Untuk jarak dekat seperti Jakarta - Bandung pp banyak pilihan di rute ini, seperti Cipaganti, Citi Trans, Day Trans, Umbara, Baraya, dan X-Trans. Sedangkan untuk Bandung - Cirebon pp ada Cipaganti dan Happy Travel. Shuttle bus mengantar anda dari pool ke pool, sedangkan travel biasanya menjemput dan mengantar anda hingga ke alamat tujuan, semudah anda mengangkat telepon.

Keempat, persiapkan gadget dan alat komunikasi. Agar anda terbebas dari isolasi dan kejenuhan selama dalam perjalanan serta untuk keadaan darurat, sangat disarankan untuk mempersiapkan sejak dini peranti tadi. Cek list kesiapan peranti anda diantaranya yaitu power bank, mobile/travel charger, baterai cadangan, ketersediaan pulsa, flash disk dan kartu memori tambahan. Dari jenisnya anda ngga perlu ragu untuk menyiapkan gadget yang dirasa perlu seperti telepon genggam, multimedia playertab, laptop, modem, kamera saku, kamera SLR (berikut pernak-perniknya seperti: lensa, flesh eksternal, trigger, tripod, stand dan tools cleaner). Dan.... masih cukup waktu bagi anda untuk memperbanyak perbendaharaan lagu MP3 dan musik untuk menemani perjalanan, menggantikan signal radio FM favorit ibukota tatkala sudah tidak bisa diakses lagi.

Selamat mudik ke kampung halaman... tetap berhati-hati dijalan, semoga tetap bergembira dan menyenangkan berkumpul dengan keluarga tercinta...!

Sabtu, 13 Juli 2013

Paribasa Sunda (Bagian Kahiji)

A

Agul ku payung butut, tumerap ka jalma taya kaboga, tapi mindeng nyaritakeun yen manehna turunan menak baheula.

Alak-alak cumampaka, niru-niru atawa mapadani saluhureun.

Anjing ngagogogan kalong, mikahayang nu pamohalan.

Anjing nyampeurkeun paneunggeul, nyampeurkeun nu rek mahala.

Anu burung diangklungan, anu gelo didogdogan, anu edan dikendangan, anu gedebul diaminan supaya tambah maceuh.

C

Cai di hilir mah kumaha ti girangna, rayat leutik sok nyonto kalakuan nu ngaheuyeukna.

D

Diangeun careuhkeun, diantep henteu didahar.

H

Herang caina beunang laukna, hasil maksud teu karana matak nyeri kana hate batur atawa teu karana nimbulkeun pecekcokan.

Herang-herang kari mata, teuas-teuas kari bincurang, asal beunghar jadi miskin, bandana teu ngari saeutik-eutik acan.

Hurung nangtung siang leumpang, hirup mewah, nembongkeun kabeungharan dina tingkah laku sapopoe.

K

Kawas cai dina daun taleus (bolang), euweuh tapakna (nasehat, papatah).

Kawas anjing tutung buntut, berebet ka ditu, berebet ka dieu, kawas nu samar rasa.

L

Landung kandungan laer aisan, gede timbangan.

M

Manuk hiber ku jangjangna, jelema hirup ku akalna.

Mihape hayam ka heulang, teu boga wiwaha, titip barang atawa harta banda ka nu geus katotol goreng adat (upamana bangsat).

Mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih, mun teu ngoprek moal nyapek, lamun teu usaha atawa teu digawe moal boga dahareun.

N

Neukteuk mere anggeus, mutuskeun hubungan.

Ngadu-ngadu raja wisuna, ngahudang amarah dua jelema sina bengkah.

Nulungan anjing kadempet, nu asih dipulang sengit.

T

Teu gugur teu angin, teu puguh alesanana.

Totopong heureut dibeber kalah soek, rejeki saeutik ari kaperluan loba, tungtungna timbul kasusah.