Kamis, 09 April 2009
Pemilu 2009
Mars Pemilu 1971-1997
Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira
Hak demokrasi Pancasila
Hikmah Indonesia merdeka
Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
Pengemban Ampera yang setia
Di bawah Undang-undang Dasar 45
Kita menuju ke pemilihan umum
Mars Pemilu 2004 - 2009
(Nortier Simanungkalit)
Pemilihan umum kini menyapa kita
Ayo songsong dengan gembira
Kita pilih wakil rakyat anggota DPR, DPD, dan DPRD
Mari mengamalkan Pancasila
Undang-undang Dasar 45
Memilih presiden dan wakil presiden
Tegakkan reformasi Indonesia
Laksanakan dengan jujur adil dan cermat
Pilih dengan hati gembira
Langsung umum bebas rahasia
Dirahmati Tuhan yang Maha Esa
Jadwal Pemilu 2009
Hari pemungutan suara: Kamis, 9 April 2009
Pukul 07.00 - 12.00 waktu setempat
Peserta: 44 partai (38 partai nasional, 6 partai lokal di Aceh)
Penetapan hasil pemilu: 19 April 2009 (KPU Kota/Kab.), 24 April 2009 (KPU Provinsi), 9 Mei 2009 (KPU)
Selamat mencontreng pilihan anda, pilih yang terpercaya dan sesuai hati nurani anda!
Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira
Hak demokrasi Pancasila
Hikmah Indonesia merdeka
Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
Pengemban Ampera yang setia
Di bawah Undang-undang Dasar 45
Kita menuju ke pemilihan umum
Mars Pemilu 2004 - 2009
(Nortier Simanungkalit)
Pemilihan umum kini menyapa kita
Ayo songsong dengan gembira
Kita pilih wakil rakyat anggota DPR, DPD, dan DPRD
Mari mengamalkan Pancasila
Undang-undang Dasar 45
Memilih presiden dan wakil presiden
Tegakkan reformasi Indonesia
Laksanakan dengan jujur adil dan cermat
Pilih dengan hati gembira
Langsung umum bebas rahasia
Dirahmati Tuhan yang Maha Esa
Jadwal Pemilu 2009
Hari pemungutan suara: Kamis, 9 April 2009
Pukul 07.00 - 12.00 waktu setempat
Peserta: 44 partai (38 partai nasional, 6 partai lokal di Aceh)
Penetapan hasil pemilu: 19 April 2009 (KPU Kota/Kab.), 24 April 2009 (KPU Provinsi), 9 Mei 2009 (KPU)
Selamat mencontreng pilihan anda, pilih yang terpercaya dan sesuai hati nurani anda!
Sabtu, 04 April 2009
Kamis, 26 Maret 2009
Episentrum
Hmm... sudah cukup lama absen curhat di Wajit Subang! Rutinitas mencari "penghidupan" telah menyita hampir sebagian besar waktu yang disediakan oleh-Nya. Lagi-lagi rutinitaslah yang terpojok... Mari sedikit berhitung dengan waktu!
Jika keseharian kita dimulai saat bangun tidur pkl. 5.00 pagi dan berakhir saat rebah diperaduan pkl. 22.00, berarti kita telah menggunakan waktu 17 jam dari 24 jam yang tersedia. Artinya 70% usage time untuk beraktivitas. Bila diurai lebih jauh, waktu yang terpakai hampir semuanya berkaitan dengan upaya mempertemukan takdir rejeki kita. Mulai dari mempersiapakan pakaian "dinas", menunggu kendaraan yang selalu penuh di tepi jalan, terjebak kemacetan akibat antrian dijalan berlubang, termangu di angkutan kota yang ngetem berbilang menit, menunggu jadwal kereta komuter yang delay tanpa konfirmasi, hingga melempar kembali baju "dinas" kotor kita ke dalam keranjang. Siklus yang repeat order!
Andai semuanya bermotif "rejeki", bisa dipastikan tidak ada waktu tersisa sekedar untuk urusan menatap "diri" di cermin, memotong kuku yang kian panjang, atau mencukur jambang dan kumis yang menebal sekalipun. Itu adalah beberapa hal yang jasmaniah... bukankah sisi ruhaniah juga hidup dan tumbuh? Adakah saat terluang untuk memberi gizi ruhani, menyingkirkan kerak dan karat hati, atau menspooring dan membalancing akal kita agar tetap lurus?
Terlalu banyak urusan memang, pun sekedar untuk survive. Hingga akhirnya kehidupan sekedar memenuhi takdir yaitu berputar atau just mengalir bagai air. Seringkali kita terlupa bahwa ada orang lain disekeliling kita... Laiknya episentrum gempa di mata ajaran geografi dulu, sesungguhnya ada pihak-pihak yang mestinya menerima getaran kehadiran kita. Mulai lingkaran terdekat seperti: ibu dan bapak, isteri, suami, anak, saudara, mertua dan anggota keluarga lainnya. Atau lingkaran yang lebih luas seperti: tetangga, rekan di tempat kerja, atau siapapun yang anda temui di angkutan umum, bahkan di forum dunia maya yang mungkin dalam lingkaran yang tak berbatas.
Saking asyiknya dengan urusan diri kita, hampir-hampir tidak menyadari keberadaan mereka. Hilap bahwa mereka nyata, dan akan senang bila ditegur sapa. Rasanya salam dan senyuman manis lebih dari cukup...! Ketakutan yang teramat sangat... menjadikan kita introvert, seolah-olah keberadaan mereka hanya akan menguras isi kantong kita yang kita perjuangkan siang dan malam. Kenyataan seperti jika ada anggota keluarga yang tidak biasanya datang ke rumah, tiba-tiba nyelonong mampir ke rumah. Kita lalu bertanya-tanya, ada apakah gerangan? Kok, tumben...?
Barangkali, sudah saatnya kita menjadi episentrum di sela-sela waktu yang sempit ini. Waktu terus bergulir, meski rutinitas "membelenggu" kita ada baiknya membagi sedikit waktu untuk mereka. Biarkanlah mereka merasakan resonansi kehadiran kita... mungkin bukan dengan isi kantong kita... atau mungkin bukan dengan kekuatan 7.7 skala Ritcher sehingga berdampak tsunami..., tapi cukuplah dengan tatapan dan senyum kita...!
Be episentrum!
Jika keseharian kita dimulai saat bangun tidur pkl. 5.00 pagi dan berakhir saat rebah diperaduan pkl. 22.00, berarti kita telah menggunakan waktu 17 jam dari 24 jam yang tersedia. Artinya 70% usage time untuk beraktivitas. Bila diurai lebih jauh, waktu yang terpakai hampir semuanya berkaitan dengan upaya mempertemukan takdir rejeki kita. Mulai dari mempersiapakan pakaian "dinas", menunggu kendaraan yang selalu penuh di tepi jalan, terjebak kemacetan akibat antrian dijalan berlubang, termangu di angkutan kota yang ngetem berbilang menit, menunggu jadwal kereta komuter yang delay tanpa konfirmasi, hingga melempar kembali baju "dinas" kotor kita ke dalam keranjang. Siklus yang repeat order!
Andai semuanya bermotif "rejeki", bisa dipastikan tidak ada waktu tersisa sekedar untuk urusan menatap "diri" di cermin, memotong kuku yang kian panjang, atau mencukur jambang dan kumis yang menebal sekalipun. Itu adalah beberapa hal yang jasmaniah... bukankah sisi ruhaniah juga hidup dan tumbuh? Adakah saat terluang untuk memberi gizi ruhani, menyingkirkan kerak dan karat hati, atau menspooring dan membalancing akal kita agar tetap lurus?
Terlalu banyak urusan memang, pun sekedar untuk survive. Hingga akhirnya kehidupan sekedar memenuhi takdir yaitu berputar atau just mengalir bagai air. Seringkali kita terlupa bahwa ada orang lain disekeliling kita... Laiknya episentrum gempa di mata ajaran geografi dulu, sesungguhnya ada pihak-pihak yang mestinya menerima getaran kehadiran kita. Mulai lingkaran terdekat seperti: ibu dan bapak, isteri, suami, anak, saudara, mertua dan anggota keluarga lainnya. Atau lingkaran yang lebih luas seperti: tetangga, rekan di tempat kerja, atau siapapun yang anda temui di angkutan umum, bahkan di forum dunia maya yang mungkin dalam lingkaran yang tak berbatas.
Saking asyiknya dengan urusan diri kita, hampir-hampir tidak menyadari keberadaan mereka. Hilap bahwa mereka nyata, dan akan senang bila ditegur sapa. Rasanya salam dan senyuman manis lebih dari cukup...! Ketakutan yang teramat sangat... menjadikan kita introvert, seolah-olah keberadaan mereka hanya akan menguras isi kantong kita yang kita perjuangkan siang dan malam. Kenyataan seperti jika ada anggota keluarga yang tidak biasanya datang ke rumah, tiba-tiba nyelonong mampir ke rumah. Kita lalu bertanya-tanya, ada apakah gerangan? Kok, tumben...?
Barangkali, sudah saatnya kita menjadi episentrum di sela-sela waktu yang sempit ini. Waktu terus bergulir, meski rutinitas "membelenggu" kita ada baiknya membagi sedikit waktu untuk mereka. Biarkanlah mereka merasakan resonansi kehadiran kita... mungkin bukan dengan isi kantong kita... atau mungkin bukan dengan kekuatan 7.7 skala Ritcher sehingga berdampak tsunami..., tapi cukuplah dengan tatapan dan senyum kita...!
Be episentrum!
Selasa, 24 Maret 2009
Sabtu, 14 Februari 2009
Mengapa Facebook? (Bagian ke-2)
Rasanya Facebook kian menjadi-menjadi...! Selain penemunya menjadi milyuner termuda sepanjang sejarah, juga FB mendapat banyak penghargaan. Penghargaan paling anyar adalah dari Forum Ekonomi Dunia sebagai salah satu Young Global Leaders 2009.
Wabah FB memang sangat terasa di tanah air. Dampaknya sangat luar bisa di aktifitas keseharian masyarakat perkotaan. Tampaknya penetrasi yang kian dalam itu dipengaruhi oleh kian murahnya tarif dan mudahnya mendapatkan koneksi internet. Jika dulu internet hanya mampu diakses melalui jaringan kabel statis, maka teknologi mobile broadband dengan banyak penyedia jasa telah memacu pertumbuhan pengakses internet berlipat-lipat kali. Teknik bundling modem hsdpa dan kartu 3.5 G broadband dari beberapa penyedia jasa internet adalah salah satunya. Yang terkini dan paling dahsyat tentu saja adalah bundling Blackberry dari beberapa operator seperti Indosat dan XL. Sebuah simbiosis antara kebutuhan ber-FB ria dengan penjualan perangkat pengakses koneksi internet.
Meski baru sebatas trend, kemungkinan wabah FB bisa memicu kecanduan. Fitur-fitur dan beragam aplikasi add on yang cukup menarik adalah penyebabnya. Dari beragam fitur FB news feed adalah poinnya. Dari news feed inilah pengguna akan selalu update tentang berbagai hal yang sedang dilakukan oleh kolega yang berada didaftar teman. Sub poin terpenting yang wajib dipantau adalah Status Update. Sesungguhnya fitur ini bukan hal baru di situs pertemanan lainnya, namun di FB fungsi ini cukup dominan dan dimaksimalkan. Hal ini tampak pada fitur FB mobile, Status Update adalah menu wajib. Hal yang sama anda akan temui jika anda menginstal Client Software atau Facebook Desktop untuk notebook atau PC anda.
Entah kebetulan atau memang disengaja, fitur Who's Viewed Me tidak tersedia di FB. Padahal di Friendster (FS) fitur tersebut sangat menonjol. Sepertinya sudah menjadi "fitrah" insani bahwa selalu ada pertanyaan "Siapa yang Liatin Aku?" dan menjadi bahan pertanyaan utama pengguna situs pertemanan. Saking pentingnya fitur ini sampai-sampai ada group petisi Who's Viewed Me di FB. Semacam "kelompok penekan" agar FB memunculkan fitur dimaksud. Rasanya apa yang diminta oleh "kelompok penekan" tadi, sudah diantisipasi oleh FB dengan fitur kompensasi... yaitu tadi News Feed yang powerfull dan siap untuk dikomentari dari berbagai sisi! Mau dari angle yang mana...? Komentari Status Update, Foto, Links, Video, Music, Join ke Group, Become a Fan, atau sekedar mengomentari pertemanan dengan teman baru anda. Hal-hal tadi kadang memunculkan kegelian, tatkala seseorang yang baru merubah status menikah karena isteri atau pasangannya juga membuka account FB dikatakan baru menikah... sehingga diberikan selamat oleh koleganya. Padahal... dialam nyata... mereka sudah beranak pinak!
Bagi para pekerja di perkotaan seperti Jakarta, kesempatan "buka" FB memang terbuka luas di jam-jam kerja. Selain karena hampir disetiap perkantoran tersedia jaringan internet "gratis", juga waktu yang "luang" memang hanya tersedia di jam-jam produktif. Selain waktu-waktu itu, komunitas perkotaan ada di perjalanan menghadapi kemacetan atau menikmati waktu yang sempit untuk keluarga. Dampaknya, ditengarai ada pengaruh FB addicted dengan produktifitas karyawan di jam kerja. Hmmm... perlu pembuktian memang, anda mungkin tertarik untuk memulai surveinya...?
Tapi yang jelas... faktanya FB addicted telah menyebabkan SDM dan manajemen di perusahaan tertentu memasang kuda-kuda... kali ini bukan Travel Warning... tapi Facebook Warning! Jadi, mohon maaf situs http://www.facebook.com/ tidak dapat anda akses hingga batas waktu yang belum ditentukan! Bukan karena kantor anda belum membayar abodemen koneksi internet ke penyedia jasa internet, melainkan karena admin anda telah mengubah alamat situs FB menjadi situs Forbidden.
"Anak-anak saatnya berhenti bermain!" dan giliran parental control software beraksi. Bagaimana ditempat anda?
Wabah FB memang sangat terasa di tanah air. Dampaknya sangat luar bisa di aktifitas keseharian masyarakat perkotaan. Tampaknya penetrasi yang kian dalam itu dipengaruhi oleh kian murahnya tarif dan mudahnya mendapatkan koneksi internet. Jika dulu internet hanya mampu diakses melalui jaringan kabel statis, maka teknologi mobile broadband dengan banyak penyedia jasa telah memacu pertumbuhan pengakses internet berlipat-lipat kali. Teknik bundling modem hsdpa dan kartu 3.5 G broadband dari beberapa penyedia jasa internet adalah salah satunya. Yang terkini dan paling dahsyat tentu saja adalah bundling Blackberry dari beberapa operator seperti Indosat dan XL. Sebuah simbiosis antara kebutuhan ber-FB ria dengan penjualan perangkat pengakses koneksi internet.
Meski baru sebatas trend, kemungkinan wabah FB bisa memicu kecanduan. Fitur-fitur dan beragam aplikasi add on yang cukup menarik adalah penyebabnya. Dari beragam fitur FB news feed adalah poinnya. Dari news feed inilah pengguna akan selalu update tentang berbagai hal yang sedang dilakukan oleh kolega yang berada didaftar teman. Sub poin terpenting yang wajib dipantau adalah Status Update. Sesungguhnya fitur ini bukan hal baru di situs pertemanan lainnya, namun di FB fungsi ini cukup dominan dan dimaksimalkan. Hal ini tampak pada fitur FB mobile, Status Update adalah menu wajib. Hal yang sama anda akan temui jika anda menginstal Client Software atau Facebook Desktop untuk notebook atau PC anda.
Entah kebetulan atau memang disengaja, fitur Who's Viewed Me tidak tersedia di FB. Padahal di Friendster (FS) fitur tersebut sangat menonjol. Sepertinya sudah menjadi "fitrah" insani bahwa selalu ada pertanyaan "Siapa yang Liatin Aku?" dan menjadi bahan pertanyaan utama pengguna situs pertemanan. Saking pentingnya fitur ini sampai-sampai ada group petisi Who's Viewed Me di FB. Semacam "kelompok penekan" agar FB memunculkan fitur dimaksud. Rasanya apa yang diminta oleh "kelompok penekan" tadi, sudah diantisipasi oleh FB dengan fitur kompensasi... yaitu tadi News Feed yang powerfull dan siap untuk dikomentari dari berbagai sisi! Mau dari angle yang mana...? Komentari Status Update, Foto, Links, Video, Music, Join ke Group, Become a Fan, atau sekedar mengomentari pertemanan dengan teman baru anda. Hal-hal tadi kadang memunculkan kegelian, tatkala seseorang yang baru merubah status menikah karena isteri atau pasangannya juga membuka account FB dikatakan baru menikah... sehingga diberikan selamat oleh koleganya. Padahal... dialam nyata... mereka sudah beranak pinak!
Bagi para pekerja di perkotaan seperti Jakarta, kesempatan "buka" FB memang terbuka luas di jam-jam kerja. Selain karena hampir disetiap perkantoran tersedia jaringan internet "gratis", juga waktu yang "luang" memang hanya tersedia di jam-jam produktif. Selain waktu-waktu itu, komunitas perkotaan ada di perjalanan menghadapi kemacetan atau menikmati waktu yang sempit untuk keluarga. Dampaknya, ditengarai ada pengaruh FB addicted dengan produktifitas karyawan di jam kerja. Hmmm... perlu pembuktian memang, anda mungkin tertarik untuk memulai surveinya...?
Tapi yang jelas... faktanya FB addicted telah menyebabkan SDM dan manajemen di perusahaan tertentu memasang kuda-kuda... kali ini bukan Travel Warning... tapi Facebook Warning! Jadi, mohon maaf situs http://www.facebook.com/ tidak dapat anda akses hingga batas waktu yang belum ditentukan! Bukan karena kantor anda belum membayar abodemen koneksi internet ke penyedia jasa internet, melainkan karena admin anda telah mengubah alamat situs FB menjadi situs Forbidden.
"Anak-anak saatnya berhenti bermain!" dan giliran parental control software beraksi. Bagaimana ditempat anda?
Langganan:
Postingan (Atom)

