Selamat Datang di Situs Wajit Subang. Ayo Bersilaturahmi Dekatkan Rezeki!

Minggu, 04 Agustus 2013

Ritual Mengusir Jenuh dalam Perjalanan Budget Airline

 Sebaiknya senantiasa cermati di gate mana seharusnya anda menunggu... bisa anda catat di buku, hp atau jika perlu difoto seperti diatas biar ngga lupa...! soalnya anda bisa saja dipindah tiba-tiba ke gate lain, bahkan lebih dari satu atau dua kali... dan yang terpenting jangan sampai anda salah naik di maskapai layanan full service... he..he.. lebih awal datang lebih baik, termasuk saat gate belum dibuka... dari pada ketinggalan pesawat ya...! (foto: Adirahman)

 Sambil menunggu gate dibuka, ngga ada salahnya ngubek-ngubek isi bandara atau berselancar tentang fasilitas bandara atau sejarahnya sekalian... dan tentu saja update status facebook dan tweeter... mumpung gratis... he..he.. (foto: Adirahman)

Kalau ngga punya entry pass ke lounge berbayar dari kartu kredit (karena kartu kredit mentok di gold...) bukan berarti anda terluput dari peluang berselonjor ria di area favorit... ada yang gratisan kok... (foto: Adirahman)

Setelah haqqul yaqin bahwa anda naik ke pesawat yang benar, bukan odong-odong atau pesawat dengan rute yang lain... maka ritual wajib adalah "pasangkan tali keledar keselamatan semasa duduk" (ditemui di pesawat kode AK rute negeri jiran...) tegakkan sandaran kursi, lipat meja di depan anda, buka penutup jendela di samping anda... dan matikan hp anda... tentu demi kebaikan bersama... (foto: Adirahman)

Meskipun anda telah memiliki jam terbang yang banyak, ada baiknya tetap antusias dan apresiatif terhadap awak kabin ketika memperagakan tata cara keselamatan dalam penerbangan darurat... lantas serahkan semuanya kepada Allah Swt. dengan berdoa untuk keselamatan...
(foto nyuri-nyuri takut kena tegur: Adirahman)

Sekalipun deg-degan dengan prosesi take off... ngga perlu ragu untuk mengabadikan landscape bandara dari posisi bird view... jarang-jarang kan...? (foto: Adirahman)

Lumayan kan... bisa ambil beberapa foto untuk waktu yang singkat... (foto: Adirahman)

Jika di darat sulit bertemu selebriti favorit... hmmm... di angkasa jauh lebih mudah... cukup membuka menu cafe... lantas pas ia hadir dihadapan anda... he..he.. (foto: Adirahman)

Tidak cukup dengan memandangnya... ada baiknya sebagai bukti anda segera memesan dan mencicipi sajiannya... harganya terang-benderang kok...! (foto: Adirahman)

Jika anda belum berencana memejamkan mata... mungkin dengan membolak-balik halaman buletin penerbangan bisa menambah informasi tentang destinasi anda... saya beruntung bertemu dengan suami teman sejawat di satu halaman di atas... ngga sia-sia kan...? (foto: Adirahman)

Rasanya ngga salah juga untuk ber- Hiii... ria dengan penumpang di sebelah anda... dan "Cheese...!"... boleh berfoto kan...? (foto: Adirahman)

 Atau mengabadikan keindahan alam lainnya di balik jendela di samping anda... (foto: Adirahman)

 Jangan buru-buru terlelap... jika belum pernah ke jembatan Surabaya - Madura via jalur darat, cukuplah anda memandang keindahannya lewat udara... indah bukan? (foto: Adirahman)

Atau anugerah alam lainnya... seperti puncak pegunungan, yang entah kapan bisa mendaki sampai ke puncaknya... kali ini anda bisa berada diatasnya... (foto: Adirahman)

 Sambil bersyukur dan tak hentinya berdoa... bersiaplah untuk prosesi mendarat di destinasi anda...
Senang...? sudah pasti... deg-degan...? tetep... tapi bukan alasan untuk tidak mengabadikannya dengan beberapa landscape... (foto: Adirahman)

Lagi-lagi... landscape bandara paska mendarat... ternyata tidak kalah menarik...hii..hii... bandaranya cukup sibuk ya... antrian untuk take off sebegitu banyaknya...(foto: Adirahman)

 
Bandara impian... ngga pa-pa lah mencontoh yang baik-baik... tentang kebersihan, keteraturan, fasilitas, dan pelayanannya...(foto: Adirahman)

Impresi pertama tentang sebuah bandara... ngga lain soal kebersihan... tempat sampah yang ini perlu juga untuk referensi... (foto: Adirahman)

Sementara itu dulu ya... sampai bertemu di perjalanan yang lain... bye... bye...!

Kamis, 01 Agustus 2013

Kian Sesaknya Kereta Kami

Sentosa Express, transportasi berbasis monorel yang menghubungkan daratan Singapura dengan Pulau Sentosa (foto: Adirahman)

Hari ini adalah genap sebulan sejak PT. KAI Commuter Jabodetabek secara resmi memberlakukan penggunaan tiket elektronik tarif progresif Commuter Line (CL), yang ditandai dengan peluncuran kartu Commet multirip. Apakah anda punya impresi, apresiasi, atau kesan khusus terhadap transportasi masal ini?

Hmm... terus terang kalau saya sih impresi selama sebulan ini ya... pegal-pegal... he..he.. Lho kok bisa...? Soalnya hampir seluruh aktivitas didominasi oleh pose berdiri... hi.. hi.. entah saat antrian membeli tiket di loket, menunggu kereta delay di peron, menunggu kereta jogrog yang ngga kunjung pintunya dibuka, dalam perjalanan berbilang menit di kabin kereta, menunggu kereta transit, atau saat mau tap out dengan antrian mengular di stasiun tujuan. Itu belum apa-apa lho...? Maka sebagai pengguna aktif Commuter Line rute Serpong - Sudirman atau Kemayoran - Serpong di hari kerja, mohon ijin berbagi rasa atau memberi bintang (jika ada... he..he...) untuk pelayanan CL selama ini.

Pertama, Kian Sesaknya Kereta Kami. Memang inilah yang terasa selama sebulan ini, suasana di kabin kereta kian sesak dan padat. Hampir tiada ruang untuk menginjakan kaki atau sekedar menaruh tangan agar badan tetap seimbang diantara olengnya kereta. Semua ring atau mistar untuk berpegang terpakai penuh, terlebih dikala jam berangkat dan pulang kerja. Seringkali mereka yang tidak bisa meraih keduanya, terpaksa memasang kuda-kuda ala pendekar Banten, atau terkadang pasrah terombang-ambing disela-sela himpitan punggung yang penuh dengan peluh.

Rasa ini semakin bertambah tatkala mesin pendingin berubah fungsi menjadi pemanas. Mesin pendingin yang seringnya tidak dingin ketika normal, menyulap kabin menjadi sauna. Karbon dioksida menumpuk akibat penumpang berjejal melebih kapasitas kabin. Beruntung, jika dalam perjalanan pagi kita masih mencium harum parfum atau wanginya sabun mandi, maka dalam perjalanan pulang di sore hari wewangian tadi sudah berganti dengan aneka bau yang lain tentunya. So, agar dapat menghirup oksigen yang cukup, beberapa roker secara kreatif membuka sebagian jendela.

Tragisnya, kepadatan yang abnormal itu terkadang ditingkahi oleh ulah hyperaktif sebagian penumpang, semisal mengobrol sepanjang perjalanan dengan volume suara yang menganggu, menjawab percakapan telepon, suara nada panggil telepon genggam yang berisik, terlalu banyak gerak untuk keperluan yang tidak perlu seperti memainkan telepon genggam atau membolak-balik majalah dan koran. Dalam beberapa hal potensi pelecehan seksual juga sangat terbuka, mengingat kontak pria dan wanita dalam satu kabin yang cukup intens, sulit dihindari. Dilain pihak, kepadatan juga menyebabkan pintu otomatis tidak bisa ditutup sempurna, karena terganjal atau memang sengaja "diganjal" penumpang.

Kemungkinan kian sesaknya kereta disebabkan oleh beberapa hal seperti: perjalanan kereta yang tidak sesuai jadwal akibat keterlambatan, jumlah gerbong dalam satu rangkaian tidak mencukupi (6 gerbong, sebagian diantaranya 8 gerbong), perpindahan penumpang dari rangkaian kereta lainnya, pertumbuhan jumlah populasi pengguna kereta akibat secara relatif tarif progresif menjadi "murah", dan terindikasi penumpang ilegal (kehadiran penumpang tanpa tiket atau tiket tidak sesuai moda). Untuk kasus yang terakhir ini, tampak dari cukup banyaknya penumpang keluar di stasiun tujuan sebagai contoh di Serpong yang tidak melewati gerbang tap out, melainkan melintasi rel. Berbeda halnya saat berlaku tiket manual, di kabin sejauh ini hampir tidak ada pemeriksaan pemilikan tiket.

Kedua, Butuh Energi dan Nyali Lebih. Anda harus benar-benar sehat lahir batin, jika anda telah memutuskan memilih CL untuk mengantar anda ke tempat bekerja. Bayangkan, energi anda sangat dibutuhkan saat mulai aksi berdiri diantrian loket, lalu antrian di gerbang tap in, berlanjut aksi berdiri di peron ketika menunggu kereta yang berbilang menit atau mungkin juga delay. Soalnya populasi calon penumpang di peron kecenderungannya membludak dan hanya tersedia beberapa baris kursi tunggu. Tragisnya di Stasiun Serpong nihil keberadaan kursi peron, maka siap-siap saja lutut dan kaki anda untuk diuji ketahanan... he..he.. Setelah maklumat bahwa kereta akan lewat di peron tertentu, anda mesti bersiap berada di antrian terdepan sambil berharap cemas mendapat tempat duduk di kabin. Ternyata itu saja belum cukup, membuang sedikit rasa malu dan nyali anda dituntut lebih untuk berjuang di depan pintu kereta yang belum terbuka, lalu berhimpit-himpitan dan tergopoh-gopoh berebut naik dan meraih tempat duduk yang belum tentu tersedia. Padahal penumpang yang hendak turun belum mendapat prioritas, maka aksi dorong arus masuk dan keluar kereta menjadi kejadian yang tidak terelakan dalam aksi perebutan "kursi".

Demikian halnya ketika kereta anda sampai di stasiun tujuan, anda perlu usaha keras "menerjang" calon penumpang yang akan naik ke kabin, sementara itu anda akan turun dari kabin. Lalu perjuangan berlanjut memperebutkan mulut tangga atau eskalator (jika ada) untuk pindah peron ketika transit atau menggapai emplasemen di lantai berikutnya. Disini aksi berdesakan berulang lagi dengan penumpang yang searah, diperparah berebut dengan calon penumpang yang berniat masuk ke peron. Keluar dari "halang rintang" ini bukan berarti selesai... jika anda penumpang transit, maka anda harus mengulang dari urutan pertama "ritual" menaiki CL ini, namun jika anda mengakhiri perjalanan di stasiun ini, bersiaplah anda harus rela mengantri lagi untuk tap out di gerbang keluar. Antrian di fase terakhir ini lumayan sangat panjang, terkadang tidak ada ruang emplasemen yang tersisa untuk antrian, karena setiap tap out membutuhkan beberapa detik, belum lagi memasukan kartu dan approval-nya untuk Commet singletrip, sehingga membutuhkan ekstra kesabaran agar anda benar-benar keluar dari area stasiun.

Selanjutnya bersiaplah merapikan gaun atau rambut anda yang mungkin sudah kusut masai atau barangkali sekedar men-setup ulang wewangian anda yang sudah jauh berubah... he..he..

Ketiga, Fasilitas Kereta yang Buruk. Sejauh ini fasilitas kereta yang "dijual" oleh PT. KAI Commuter Jabodetabek adalah keberadaan mesin pendingin (AC). Fasilitas inilah yang konon menjadi diferensiasi produk dan menjadi "value" dibandingkan dengan KRL ekonomi (almarhum red.). Sayangnya fasilitas ini di beberapa rangkaian kereta generasi awal, sudah tidak berfungsi optimal. Di pagi hari pada saat udara masih sejuk keberadaannya cukup dirasakan, namun sangat berbeda ketika perjalanan pulang di sore hari berfungsi layaknya mesin pemanas, hanya meninggalkan bunyi bising dan menebar hawa panas dari atap kabin. So, apa bedanya dengan KRL ekonomi yang sudah dialmarhumkan itu?

Terkait dengan rangkaian kereta generasi awal yang konon didatangkan dari Jepang itu, isteri saya bercerita kalau temannya yang kebetulan mengajar di perguruan tinggi negeri di bilangan Depok bertemu dengan kolega seniornya dari Jepang yang sedang berkunjung ke kampusnya. Suatu ketika koleganya itu melihat rangkaian kereta yang kebetulan lewat di depan kampus tersebut lalu spontan seakan berteriak: "Lho...! Itu kan kereta yang aku naiki waktu aku kecil...!" Teman isteri saya hanya berucap: "Masa sih...?" Ngga salah lagi, dibadan kereta rupanya masih tertulis hurup kanji yang kira-kira menyatakan rute yang dijalani kereta itu ketika masih beroperasi di Jepang. Sudah terlalu rentakah untuk beroperasi secara layak?

Dari pengamatan saya, sesungguhnya PT. KAI dari sekitar tahun 2000-an sudah berupaya mengoperasikan rangkaian KRL hasil produksi lokal PT. INKA. Demikian halnya di kereta CL, beberapa rangkaian hasil produksi PT. INKA sudah memperkuat jajaran itu. Kali ini penampakan produk lokal tersebut sudah kian "mirip" dan relatif cukup modern dari sisi desain. Namun, lagi-lagi kwalitas produk tersebut membutuhkan ujian dan proses untuk sejajar dengan produk luar sebelumnya. Terbukti ketika saya menaiki kereta tersebut sewaktu hujan lebat di pertengahan Juli kemarin, di kabin saya dihebohkan banjir air hujan yang menyembur dengan sangat deras dari ventilasi mesin pendingin diatas atap. Hampir sepanjang perjalanan, kenyamanan penumpang terganggu ulah guyuran air hujan itu, dari informasi beberapa penumpang kejadian tersebut terjadi pula di kabin lainnya.

Sementara pada kasus lainnya pintu otomatis terkadang membuka dan menutup sendiri secara berulang, dimana kereta sedang berjalan. Bayangkan jika ada penumpang yang sedang menyandar di pintu, tentu akan sangat membahayakan jiwa. Beberapa bagian lainnya seperti LCD yang terletak diatas pintu kabin juga hanya menjadi penghias tanpa terlihat berfungsi, bagian-bagian karet penyekat pintu otomatis dan penutup list atap kabin juga sudah tampak rusak dan terkelupas.

Suasana kabin MRT yang dioperasikan oleh SBS Transit di Singapura (foto: Adirahman)

Keempat, Fasilitas Stasiun yang Minimal. Kendati PT. KAI mulai berbenah diantaranya melalui sterilisasi stasiun dari okupasi pedagang dan pihak yang tidak berkepentingan, rasanya akselerasi dalam penambahan fasilitas stasiun perlu percepatan. Diantara yang mendesak adalah jumlah tempat duduk untuk menunggu yang layak dan memadai, peron yang nyaman dari gangguan hujan dan panas, konsistensi terhadap pelarangan keberadaan pedagang di kabin dan di peron, toilet umum yang manusiawi dan gratis tanpa syarat, serta parkir yang layak dengan luasan memadai.

Semoga saja di satu bulan usia e-ticketing ini, PT. KAI Commuter Jabodetabek tidak semata fokus mengejar perluasan pasar dan pertumbuhan populasi pengguna, melainkan lebih berorientasi terhadap peningkatan kenyamanan dan keamanan ber-Commuter Line. Rasanya belum terlambat mensejajarkan dengan kwalitas layanan transportasi massal dengan referal MRT negeri tetangga.

Pertanyaan yang harus segera terjawab adalah bagaimana memanusiakan pengguna di transportasi publik...?

Rabu, 17 Juli 2013

Tips Mudik Asyik Lebaran 1434 H

Ada rencana mudik ke kampung halaman pada Lebaran 1434 H ini?

Hmmm... jika jawabannya ya..., maka ada baiknya dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Kira-kira apa sih yang perlu disiapkan?

Lets time to prepare...!

Pertama, tentukan hari keberangkatan. Sesuai Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi) hari libur Lebaran 1434 H adalah jatuh pada tanggal 8 dan 9 Agustus 2013, sedangkan tanggal 5, 6, dan 7 Agustus 2013 dinyatakan sebagai cuti bersama. Jika mengacu pada keputusan tersebut, maka anda bisa mengatur waktu mudik lebaran dari tanggal 3 sampai dengan tanggal 11 Agustus di minggu berikutnya, dengan total 9 hari. Namun perlu diperhitungkan bahwa 1 Syawal 1434 H berpeluang jatuh pada tanggal 8 atau 9 Agustus 2013. Artinya jika hari berpuasa berpeluang penuh selama 30 hari, maka 1 Syawal tepat pada tanggal 9 Agustus 2013. Konsekuensinya anda perlu mempertimbangkan untuk menambah jumlah cuti, jika anda berniat berlama-lama di kampung halaman paska Lebaran.

Penentuan hari keberangkatan yang tepat, akan sangat mempengaruhi kenyamanan diperjalanan. Biasanya operasi tanggap mudik Lebaran yang ditetapkan oleh pemerintah adalah 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah Lebaran, atau populer dikenal dengan H-7 dan H+7. Pada tenggat tersebut seluruh instansi terkait seperti Kepolisian Negara RI, Kementrian Perhubungan, Kementrian Kesehatan, Kementrian Pekerjaan Umum, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, PMI, Jasa Marga, penyelenggara tol, perbankan, ASDP, PT. KAI, PT. Angkasa Pura, PT. Damri, operator bis, maskapai penerbangan, operator telepon, rumah sakit, ATPM, bengkel, dan industri pendukung lainnya sudah bersiap di sepanjang jalur mudik. Mengingat libur Lebaran cukup panjang sebelum hari H, memungkinkan hari keberangkatan dapat diatur lebih longgar untuk menghindari kepadatan pada puncak mudik. Sementara titik kritis justru pada arus balik, karena akhir libur resmi hanya berselang beberapa hari paska hari H Lebaran.

Kedua, tentukan rute perjalanan. Berdasarkan informasi terkini, jalur Pantura yang menjadi jalur favorit mudik ke arah timur bagian Pulau Jawa masih dalam perbaikan. Karakteristik jalan di jalur ini cenderung datar, lurus, lebar, dan sebagian besar sudah double-double track hingga sebagian Jawa Tengah. Alternatif menuju ke timur adalah rute via Sadang - Subang - Cikamurang - Kadipaten - Palimanan - Cirebon atau dari Kadipaten via Majalengka - Cikijing - Kuningan. Karakteristik jalan di jalur ini cenderung kombinasi tanjakan dan turunan, lurus dan belokan, dan single track.

Selain berkenaan dengan jarak tempuh, penentuan rute yang sesuai juga untuk mempertimbangkan potensi titik kemacetan, keamanan, dan dukungan ketersediaan fasilitas seperti SPBU, bengkel, tambal ban, mesjid, rumah makan, posko mudik, pos polisi, rumah sakit, atm dan lainnya. Melalui panduan peta mudik lebaran terkini, anda bisa menentukan dari sekarang mana red line yang sekiranya termasuk "kurang bersahabat" dan green line yang sekiranya "bersahabat" untuk dilalui. Sebagai tambahan ada baiknya mempertimbangkan faktor jalur wisata, jika anda berniat memberi nilai lebih dari rute mudik anda.

Ketiga, tentukan moda transportasi. Bagi anda yang berada di Pulau Jawa dan memilih menggunakan transportasi publik, sejauh ini penggunaan kereta api cukup direkomendasikan. Beberapa alasan diantaranya adalah faktor kenyamanan dan kecepatan. Seperti diketahui PT. KAI memasuki tahun 2013 ini telah memberlakukan tiket sesuai tempat duduk, menghapuskan tiket berdiri, memberlakukan gerbong berpendingin udara termasuk kelas ekonomi, pemesanan tiket online dan sesuai KTP, serta reservasi tiket 3 bulan sebelum hari keberangkatan dengan distribution channel yang lebih meluas.

Namun jika anda memilih kendaraan pribadi, so masih cukup waktu untuk memeriksa kelayakan kendaraan anda. Bukan karena menyangkut usia kendaraan, melainkan terkait perawatan rutin yang menentukan kehandalan kendaraan. Dari jenis kendaraan roda dua, check list yang perlu mendapat perhatian adalah seputar oli mesin, sistem pengereman (cakram, kampas dan minyak rem), head lamp & rear lamp, flasher (lampu sign), v-belt cvt (untuk motor matik), rantai, air accu, ketebalan grip dan tekanan ban. Dari jenis kendaraan roda empat, daftar prioritas anda tentu lebih banyak diantaranya kelayakan oli mesin, timing belt, sistem pengereman (cakram, kampas dan minyak rem), head lamp & rear lamp, flasher, oli transmisi, oli gardan, ketebalan grip dan tekanan ban, air radiator dan tabung cadangannya, air accu, wiper dan air wiper, sistem pendingin udara, tools kit dan ban cadangan.

Beberapa tahun belakangan ini, moda transportasi seperti shuttle bus dan travel cukup berkembang dengan kenyamanan dan kemudahan booking-nya, khususnya bagi anda yang meragukan kenyamanan transportasi publik lainnya. Untuk jarak dekat seperti Jakarta - Bandung pp banyak pilihan di rute ini, seperti Cipaganti, Citi Trans, Day Trans, Umbara, Baraya, dan X-Trans. Sedangkan untuk Bandung - Cirebon pp ada Cipaganti dan Happy Travel. Shuttle bus mengantar anda dari pool ke pool, sedangkan travel biasanya menjemput dan mengantar anda hingga ke alamat tujuan, semudah anda mengangkat telepon.

Keempat, persiapkan gadget dan alat komunikasi. Agar anda terbebas dari isolasi dan kejenuhan selama dalam perjalanan serta untuk keadaan darurat, sangat disarankan untuk mempersiapkan sejak dini peranti tadi. Cek list kesiapan peranti anda diantaranya yaitu power bank, mobile/travel charger, baterai cadangan, ketersediaan pulsa, flash disk dan kartu memori tambahan. Dari jenisnya anda ngga perlu ragu untuk menyiapkan gadget yang dirasa perlu seperti telepon genggam, multimedia playertab, laptop, modem, kamera saku, kamera SLR (berikut pernak-perniknya seperti: lensa, flesh eksternal, trigger, tripod, stand dan tools cleaner). Dan.... masih cukup waktu bagi anda untuk memperbanyak perbendaharaan lagu MP3 dan musik untuk menemani perjalanan, menggantikan signal radio FM favorit ibukota tatkala sudah tidak bisa diakses lagi.

Selamat mudik ke kampung halaman... tetap berhati-hati dijalan, semoga tetap bergembira dan menyenangkan berkumpul dengan keluarga tercinta...!

Sabtu, 13 Juli 2013

Paribasa Sunda (Bagian Kahiji)

A

Agul ku payung butut, tumerap ka jalma taya kaboga, tapi mindeng nyaritakeun yen manehna turunan menak baheula.

Alak-alak cumampaka, niru-niru atawa mapadani saluhureun.

Anjing ngagogogan kalong, mikahayang nu pamohalan.

Anjing nyampeurkeun paneunggeul, nyampeurkeun nu rek mahala.

Anu burung diangklungan, anu gelo didogdogan, anu edan dikendangan, anu gedebul diaminan supaya tambah maceuh.

C

Cai di hilir mah kumaha ti girangna, rayat leutik sok nyonto kalakuan nu ngaheuyeukna.

D

Diangeun careuhkeun, diantep henteu didahar.

H

Herang caina beunang laukna, hasil maksud teu karana matak nyeri kana hate batur atawa teu karana nimbulkeun pecekcokan.

Herang-herang kari mata, teuas-teuas kari bincurang, asal beunghar jadi miskin, bandana teu ngari saeutik-eutik acan.

Hurung nangtung siang leumpang, hirup mewah, nembongkeun kabeungharan dina tingkah laku sapopoe.

K

Kawas cai dina daun taleus (bolang), euweuh tapakna (nasehat, papatah).

Kawas anjing tutung buntut, berebet ka ditu, berebet ka dieu, kawas nu samar rasa.

L

Landung kandungan laer aisan, gede timbangan.

M

Manuk hiber ku jangjangna, jelema hirup ku akalna.

Mihape hayam ka heulang, teu boga wiwaha, titip barang atawa harta banda ka nu geus katotol goreng adat (upamana bangsat).

Mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih, mun teu ngoprek moal nyapek, lamun teu usaha atawa teu digawe moal boga dahareun.

N

Neukteuk mere anggeus, mutuskeun hubungan.

Ngadu-ngadu raja wisuna, ngahudang amarah dua jelema sina bengkah.

Nulungan anjing kadempet, nu asih dipulang sengit.

T

Teu gugur teu angin, teu puguh alesanana.

Totopong heureut dibeber kalah soek, rejeki saeutik ari kaperluan loba, tungtungna timbul kasusah.

Ka Cai Jadi Saleuwi, Ka Darat Jadi Salebak

B

Beunteur, lauk leutik nu sok kapanggih di susukan atawa di sawah, kira-kira sagede cinggir.

K

Kabadi, kasambet, cilaka (gering) perbawa lelembut nu kagadabah; kasibat, gering ngadadak disangka lantaran panggawe lelembut.

Kuncen, atawa pakuncen, purah tunggu kuburan karamat jsb. nu nyekel konci lawang, sarta purah ngajajapkeun anu jarah ka dinya.

L

Leuwi, kedung (basa Jawa), bagian walungan anu jero, sarta biasana rada lega (rubak); leuwi larangan, 1. leuwi paranti mupuh (munday) menak baheula, teu meunang diala laukna ku umum; 2. leuwi nu sanggeus aya pamarentah otonom (propinsi) aya katangtuan ngala laukna nurutkeun peraturan, upama bae ngan diwenangkeun make heurap carang (ukuran tilu ramo atawa jalah makan). ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak, paribasa, layeut, runtut-raut, silihayunkeun; mangpengkeun atawa ngalungkeun kuya ka leuwi, paribasa, nempatkeun jelema (pagawe) di atawa mindahkeun ka lembur na sorangan.

P

Parak, marak, nyaatkeun sabagian tina solokan atawa walungan, supaya beunang laukna; diparak, 1. disaatan (walungan), sarta diala laukna; 2. harti injeuman teu disuguhan cai-cai acan (semah): Di nu kariaan biasana ondangan teh nepi ka rengse upacara jeung nu pidato mah diparak bae! parakan, tempat di walungan nu diparak (Loba tempat nu make parakan, saperti Parakanmuncang, Parakansalak, Parakanhonje, Parakanpanjang, jste.)

S

Saung, adegan leutik sarta lumayan siga imah, di sawah atawa di kebon paranti reureuh jste.; nyaungan, ngiuhan ku sarup, saung; nyaung-nyaung, cicing (matuh) sawatara lilana di saung atawa dina poporogok (nu ngungsi upamana); Saung-genjot, ngaran opat bentang, sok disebut Bentang Langlayang.

Selasa, 09 Juli 2013

Ngabuburit ke Cipanas Subang

Setiap mengawali bulan puasa selalu terasa keharuan di jiwa. Ya... beribu nostalgi yang bercampur antara kesyahduan bulan yang suci dan kedamaian masa kecil tatkala menjalani puasa di kampung halaman.

Seperti diketahui pada rentang akhir tahun 70-an dan dasawarsa 80-an, hampir sebagian besar penggalan waktu di bulan suci merupakan hari libur sekolah. Jika dihitung, masa efektif sekolah di bulan itu berkisar satu pekan tepatnya pada minggu kedua. Ketika itu, kegiatan sekolah diisi oleh program pesantren kilat.

Pernah suatu masa, pesantren kilat diadakan di Masjid Attaqwa di pusat kota Kecamatan Subang. Sebuah acara mengisi ramadhan yang diikuti oleh gabungan siswa-siswi SDN, MI, SMPN dan MTSN yang berada di Desa Subang. Kala itu di Desa Subang ada 5 buah SD, terdiri dari SDN I di Bulak Caringin, SDN II di Dusun Tarikolot, SDN III di Burujul (Sekarang Rengganis), SDN IV di Dusun Cimalaka, dan SDN V di Cikembang (Sekarang menjadi Desa Bangunjaya). Sedangkan MI (Madrasah Ibtidaiah) berlokasi di Dusun Tarikolot, SMPN di Burujul dan MTSN berada di Ngohol. Sedangkan para pengajar adalah para guru agama yang mewakili dari berbagai sekolah, diantarnya Ibu Khadijah dari SDN III, Pak Hidayat dan Pak Juhana dari SMPN, Pak Tamjid yang mewakili DKM Attaqwa, dan lainnya. Materi yang disampaikan berkisar pelajaran tatacara sholat, tajwid, tata cara puasa, taddarus, dan berbagai pernak-pernik lainnya.

Bagi saya, terkadang bagian yang paling horor... adalah saat ditest baca Al-quran satu persatu di hadapan staf pengajar dan siswa lainnya. Secara saat itu saya masih duduk di bangku SD dan belum mengenal huruf hijaiyah dengan baik, apalagi jika harus dirangkai menjadi bacaan dalam momen taddarus bergilir. Panas dingin deh rasanya... dan malunya ngga tertahankan... soalnya di depan para siswi juga... bayangin aja kalo di depan siswi yang ditaksir... hi..hi.. 

Saya memang tergolong yang telat melek baca Al-quran, disaat teman sebaya udah lancar dan fasih banget bacanya. Teman-teman sekolah yang paling lancar adalah mereka yang berasal dari Kampung Sukasari. Di kampung ini teman-teman terbiasa belajar intensif harian di pesantren Kyai Sulaeman, Tajug Pak Juhana, dan Tajug Mama-nya Aceng. Minder deh rasanya kalo dibandingkan mereka, terlebih lagi jika ditanya tajwid dan makhroj-nya... serasa menciut dan pengen kabur aja... he..he...

Seingat saya, tergolong mulai lancar baca Al-quran itu menjelang akhir lulus SMP... he..he.. telat ya...!  Berawal dari pengenalan huruf hijaiyah dan Juz-Amma oleh orang tua saya. Bapak saya cukup keras mengajari saya kala itu. Saya terkadang sampai menangis dan ngga berkutik mendapat bentakan beliau. Kata-kata yang selalu terngiang adalah: "Kakek-nya haji masa ngga bisa baca Quran...?". Saya menyadari saya tergolong yang malas ke tajug. Alasannya simpel... rumah orang tua memang agak terpencil. Untuk sampai ke tajug di Bulak Caringin, saya harus melewati jalan yang cukup gelap... tanpa melewati rumah di kiri-kanan jalan. Belum ada listrik apalagi penerangan jalan semasa itu. Barangkali hanya terang bulan purnama yang bisa membantu saat itu. So, jika pulang dari tajug, untuk mengatasi ketakutan akan kegelapan... saya berlari pontang-panting sekuatnya untuk segera mencapai rumah... he..he..!

Fase yang cukup sweet dalam perjalanan membaca Al-quran saya adalah bimbingan dari Teh Emus...! Dia adalah remaja dari tetangga kampung sebelah tepatnya Sukasari, yang membantu tugas-tugas domestik di rumah orang tua saya. Dikala senggang dia meluangkan waktu mengajari... panjang-pendek bacaan, makhroj, terkadang tajwid... dengan metoda dia membaca duluan penggalan-penggalan kata, lalu saya mengikutinya. Hasilnya... terbukti saya lancar dan cukup fasih...!

Diluar aktivitas itu, shaum di kampung halaman adalah momen liburan. Teman-teman kecil saya dari Bulak Caringin seperti Didin, Yayan, Riky dan lainnya... selalu membuat trip-trip kecil untuk mengisi ngabuburit. Trip yang paling menarik adalah perjalanan dan berkemah di tepian Sungai Cimonte. Di tepian sungai yang datar dan landai kita membuat sebuah sasaungan yang terbuat dari pelepah daun kelapa, ranting-ranting serta daun jerami atau daun kelapa sebagai atapnya. Daun jerami digelar pula di bawah sasaungan sebagai kasur dan alas tidur. Selain bersantai, kita juga menghabiskan waktu dengan marak menangkap ikan beunteur yang kala itu masih mudah dijumpai dan didapat di Sungai Cimonte.

Ketika dalam perjalanan pulang, terkadang menggunakan rute yang berbeda. Melewati pematang sawah, kebun-kebun palawija yang sedang berbuah, atau kebun buah-buahan. Disitulah kejadian tak terduga sering terjadi. Tanpa beban... kita memanen buah tomat, mentimun, buah sawo, jambu biji atau dawegan dari pohon kelapa kuning yang memang mudah digapai... padahal entah milik siapa... Awalnya adalah untuk menyiapkan diri buat berbuka...dan tragisnya kita justru berbuka lebih awal.... sebelum adzan maghrib tiba!

Trip yang mengasyikan lainnya, tentu saja adalah perjalanan ke Cipanas. Sebuah pemandian air panas yang telah disiapkan oleh alam. Jaraknya kurang lebih satu setengah kilometer di sebelah utara Desa Subang. Dapat ditempuh dengan berjalan kaki melewati rute Bulak Caringin, terus ke utara menuju Kampung Cikadu. Di bawah sebuah bukit dan tepian Sungai Citiis, terdapat kolam air panas untuk berendam. Kolam tersebut berada di celah-celah sebuah batu besar. Air panas dengan aroma khas belerang tampak mengepul dan mengalir deras dari sela-sela bukit, sedangkan air dingin sebagai penetral panas dialirkan dari Sungai Citiis. Di depan kolam air panas ada sebuah leuwi, disitulah tempat berenang dan mendinginkan badan, ketika usai berendam di kolam air panas. Selain kolam tadi, ada pula "kolam" air panas kecil di dekatnya. Biasanya kolam ini dipakai oleh para pemula, yang tidak terbiasa dengan suhu air kolam utama yang relatif panas. Di kolam air panas kecil ini, air bisa diatur suhunya dengan cara mencampur air dingin yang sama-sama mengalir dari celah-celah batu bukit. Yang istimewa dari kolam ini, airnya bisa dikuras dan diganti setiap waktu, tentu saja bergiliran dengan pengunjung lain, karena memang hanya memuat dua atau tiga orang saja.

Masa itu, Cipanas relatif terasa cukup jauh dan sepi. Menjelang tengah hari, merupakan bagian yang paling horor. Orang tua dulu mewanti-wanti agar tidak berkunjung ke sungai khususnya menjelang tengah hari, alasannya adalah takut kabadi. Pengalaman saat itu, Cipanas di tengah hari bagi anak kecil memang cukup "menakutkan". Biasanya hanya ada satu atau dua orang saja yang tengah berendam di kolam utama yang berasal dari luar desa. Mereka adalah para pasien penyakit kulit yang tengah terapi air panas belerang. Mereka tinggal selama beberapa hari di "hostel" sederhana di depan pintu masuk Cipanas, setelah meminta ijin kepada "kuncen" yang berasal dari Kampung Cikadu. Namun menjelang sore hari, barulah kondisinya mulai ramai.

Lalu apa kabar Cipanas Subang sekarang...?

Senin, 01 Juli 2013

Commuter Line Update: Kartu Commet Multitrip Efektif Berlaku 1 Juli 2013



Ada kabar gembira bagi anda pengguna kereta Commuter Line (CL) hari ini. PT. KAI Commuter Jabodetabek mulai memberlakukan penggunaan kartu multitrip untuk pengguna Commuter Line. Seperti diketahui uji coba Commuter Electronic Ticketing (Commet) sudah berjalan sejak tanggal 1 Juni 2013 melalui penggunaan kartu Commet untuk rute single trip (sekali jalan).

Berbeda dengan penggunaan kartu Commet untuk perjalanan sekali jalan, kartu Commet multitrip memiliki beberapa keunggulan, diantaranya sbb.:

Pertama, Bebas antrian di loket pembelian tiket. Bagi anda komunitas komuter yang secara rutin dan bergantung kepada penggunaan kereta CL, anda bisa membeli kartu perdana atau mengisi ulang di loket dengan memilih waktu-waktu tertentu disaat trafik loket rendah. Artinya akan banyak menghemat waktu, dan tanpa perlu takut tertinggal kereta akibat antrian loket yang berkepanjangan.

Kedua, Lebih fleksibel dalam menentukan rute perjalanan. Anda tidak perlu menyebutkan tujuan atau rute akhir pada tiap kesempatan melakukan perjalanan kepada petugas loket. Cukup tap kartu di gate in stasiun awal dan jangan lupa tap di gate out stasiun tujuan anda. Dengan kata lain, anda tidak perlu bingung ketika anda belum menentukan stasiun tujuan anda pada saat sudah berada di atas kereta, melainkan anda bisa putuskan keluar atau turun di stasiun manapun, kapan dan sesuka hati, terkecuali stasiun awal.

Ketiga, Tidak perlu menyiapkan uang tunai setiap anda melakukan perjalanan. Sebagai kartu prabayar yang berfungsi sebagai tiket, uang anda telah "disimpan" menjadi saldo di kartu Commet, dan siap "dipotong" sebagai kompensasi penggunaan jasa kereta ketika tap out di stasiun tujuan. Berarti anda tidak perlu menyiapkan uang tunai dan mengambil uang kembalian disetiap melakukan perjalanan. Lebih sederhana dan lebih cepat bukan?

Keempat, Gaya hidup modern. Sebagai komunitas perkotaan dengan kepedulian akan isue-isue kekinian seperti kemacetan atau go green, maka dengan memiliki Commet multitrip sudah cukup mewakili ciri-ciri pribadi yang simpel, efisien, efektif dan bernilai lebih untuk sebuah gaya hidup bertransportasi. Lebih jauh lagi anda telah berpartisipasi untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi sebagai solusi menekan kemacetan dan polusi udara perkotaan. 

Sebagai perbandingan di negeri tetangga seperti Singapura, kartu prabayar sejenis untuk perjalanan transportasi multitrip diantaranya adalah Ez-Link. Ez-Link dipakai sebagai tiket untuk transportasi terpadu di Singapura yang meliputi MRT, LRT dan bus. Kartu perdana Ez-Link dengan mudah diperoleh diberbagai gerai diluar stasiun kereta. Penggunanya dapat mengisi ulang secara mandiri melalui General Ticketing Machine (GTM) yang tersedia diberbagai stasiun MRT dengan memasukan nilai dan uang tunai melalui mesin. Selain untuk isi ulang Ez-Link, GTM juga berfungsi sebagai channel penjualan tiket untuk single trip secara mandiri dengan menekan stasiun tujuan di layar sentuh dan jumlah tiket yang dipesan. Mesin secara otomatis merespon uang tunai yang anda masukan ke mesin dan menghitung uang kembalian, lalu mengeluarkan kartu yang dipesan dan uang kembalian anda melalui sebuah dispenser. Berbeda dengan kartu Commet single trip, harga tiket sekali jalan yang dibeli dari GTM sudah termasuk beban deposit kartu sebesar 1 SGD per kartu yang dipesan. Sementara itu di gate out stasiun tujuan kartu tidak dikembalikan melalui slot di gate out, melainkan cukup di-tap kemudian gate terbuka. Pengembalian kartu dan deposit kartu sekali jalan, bisa dilakukan melalui slot mesin GTM dan uang deposit diambil melalui dispenser.  

Saat ini distribusi channel untuk kartu Commet baik untuk single trip atau pun multitrip, dilayani oleh loket-loket penjualan di seluruh stasiun kereta di Jabodetabek, demikian halnya untuk layanan isi ulang. Moga-moga saja ke depan distribusinya bisa lebih mudah dan meluas, termasuk bisa dibeli dan diisi ulang melalui mesin secara swalayan. So... tunggu apa lagi, ingin gaya dan peduli... baiknya anda segera mencobanya...!

Spesifikasi kartu Commet multitrip:
  • Kartu Commet multirip merupakan kartu Commet yang tergolong prabayar.
  • Kartu perdana dapat dibeli seharga Rp.50.000,-, terdiri dari harga kartu perdana seharga Rp.20.000,- dan saldo senilai Rp.30.000,-.
  • Kartu perdana dapat dibeli dan diisi ulang di seluruh loket stasiun KA di wilayah Jabodetabek, dengan nilai maksimum isi ulang sebesar Rp.1.000.000,-.
  • Saldo Rp.7.000,- merupakan saldo minimum bagi penggunanya untuk melakukan perjalanan.
  • Kartu Commet dapat digunakan dan dipindahtangankan kepada orang lain.
  • Tidak ada masa kadaluwarsa saldo atau kartu.
  • Biaya penerbitan kartu baru karena rusak atau patah atau hilang sebesar Rp.20.000,-.
  • Kehilangan kartu menjadi tanggungjawab pemilik kartu, dan saldo tidak dapat dipindahkan. Sedangkan pemindahan saldo karena kartu rusak atau patah masih dimungkinkan dengan tenggang waktu pengkreditan tertentu.
  • Perhitungan tarif bersubsidi adalah lima stasiun pertama sebesar Rp.2.000,- dan setiap tiga stasiun selanjutnya Rp.500,- dengan tarif tiket terjauh sebesar Rp.7.000,-.
Tips penggunaan kartu Commet multitrip:
  • Jangan lupa untuk selalu tap in di stasiun awal dan tap out di stasiun tujuan, sehingga anda terhindar dari denda dengan tarif terjauh dan kartu anda tetap bisa dipergunakan.
  • Jika anda tap in di stasiun awal dan tap out di stasiun yang sama, anda dikenakan tarif terjauh.
  • Selalu menyimpan ditempat yang aman, hindari tertekuk, patah atau hilang, karena itu adalah berisi uang anda untuk membayar sebuah kenyamanan.
Sumber: Brosur PT. KAI Commuter Jabodetabek